KEDIRI, JP Radar Kediri - Rumah Niken Valentino Putri Ningtyas tak jauh dari kantor Desa Silir, Kecamatan Wates. Mungkin sekitar satu kilometer ke arah barat. Namun, tetap tak mudah untuk menemukan. Bahkan, bagi yang baru pertama berkunjung, sepertinya harus menggunakan fasilitas maps.
Di rumah itu Niken hanya tinggal bersama ibunya. Sang ayah sudah meninggal sekitar tiga tahun yang lalu. Sementara, kakak perempuannya sudah ikut suaminya.
“Ibuk masih kerja,” ujarnya, sembari menyilakan Jawa Pos Radar Kediri masuk kemarin siang.
Gadis 21 tahun ini mulai bercerita tentang ibunya. Seseorang yang tak pernah berhenti memberikan dukungan. Terutama untuk mewujudkan harapan Niken menjadi seorang penari.
“Kata ibu harus telaten,” kata Niken.
Ternyata, petuah ibunya itu benar-benar manjur. Sejak taman kanak-kanak (TK), dia mulai belajar menari, tarian tradisional. Ketika itu masih belum masuk sanggar tari. Hanya belajar di sekolah. Barulah saat sekolah dasar (SD) dia bergabung dengan sanggar.
“Tapi saya itu yang nggak terus di sanggar. Pernah ke sanggar ini terus keluar, lalu ikut ke sanggar lainnya,” jelasnya.
Intinya, dia terus konsisten belajar menari selama menempuh pendidikan. Ketika SMP dia mengikuti ekstra-kurikuler menari. Demikian pula ketika masuk SMK. Menurutnya, dia harus menguasai satu bakat lantaran dia merasa tidak unggul di bidang akademik ataupun olahraga.
“Bakatku ini ya harus dikembangkan,” ucapnya.
Semua ketelatenannya itu pun terbayarkan tahun lalu. Dia berkesampatan tampil dalam Indonesian Cultural Night yang acaranya berlangsung di Bangkok, Thailand. Di sana, dia dengan rekannya menampilkan kesenian Reog Ponorogo. Niken tampil sebagai jathil, penari dengan kuda kepang.
“Yang ke sana ada lima jathil, empat warok, satu bujang ganong, satu klono, dan satu dadak,” jelas Niken menyebut tokoh yang berada dalam alur cerita Reog Ponorogo.
Yang perlu digarisbawahi, Niken harus melalui proses yang panjang agar bisa terpilih tampil di acara tersebut. Apalgi, jauh sebelumnya, dia meragukan bakatnya sendiri. Pasalnya, dia sempat mendengar bahwa gerakan tarinya jelek.
“Tetapi itu yang nge-push saya,” akunya sembari menjelaskan dirinya pertama kali belajar tari Reog Ponorogo saat di bangku kuliah.
Di sisi lain, rasa tidak percaya dirinya datang lantaran teman-temannya banyak yang asli Ponorogo. Seiring berjalannya waktu, dia mulai beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. Hingga akhirnya dia sering diajak untuk mengisi suatu acara.
“Dulu saya sempat gelo pol gara-gara dulu katanya mau tampil di PKKMB, ternyata nggak jadi. Saya cerita ke Ibu, katanya nanti pasti ada gantinya,” kenangnya.
Kekecewaan itu datang lantaran dia merasa sudah berlatih jauh-jauh hari sebelumnya. Meski begitu, Niken mendapatkan gantinya. Mulanya, dia diajak untuk tampil di Festival Nasional Reog Ponorogo pada 2022. Niken dan rekan-rekannya mewakili Universitas Brawijaya Malang, tempatnya kuliah. Dan berhasil memenangkan gelar juara.
“Itu di bulan Juli tahun lalu. Kemudian Agustus diajak lagi tampi di Grahadi di acara Penurunan Bendera Merah Putih HUT RI. Lalu, September diajak ke Bangkok,” bebernya.
Baginya, menari adalah salah satu hal yang bisa dia gunakan untuk mengekspresikan dirinya. Dia merasa tak unggul di bidang lain sehingga memilih menggeluti tari. Dengan ketelatenannya itu, akhirnya dia bisa terbang ke luar negeri dengan hobi semasa kecilnya.
“Dengan nari saya bisa ke mana-mana,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah