KEDIRI, JP Radar Kediri- Dulu, tempat ini adalah sungai yang sering menyebabkan banjir. Setelah dinormalisasi, kemudian menjadi tempat wisata. Kini, lokasi wisata bernama Gronjong Wariti ini menjadi andalan dalam mendulang pendapatan asli desa.
Harus diakui, keberadaan lokasi wisata Gronjong Wariti merupakan mesin ekonomi bagi Desa Mejono, Kecamatan Plemahan. Tak hanya mendatangkan pemasukan bagi pemdes, juga mendongkrak penghasilan warga yang membuka usaha di tempat ini.
“Mereka (warga) membuka berbagai jenis usaha. Mulai menjual makanan, minuman, aksesoris, hingga menyediakan tempat berkaraoke,” terang Kepala Dusun Mejono, Desa Mejono, Kecamatan Plemahan Nurul Kusnan.
Pria yang kerap dipanggil Rul ini menjelaskan, dulu tempat wisata ini adalah kedung sungai yang jebol karena banjir. Akibat sungai yang tidak pernah menjalani normalisasi aliran. Setelah pengajuan normalisasi disetujui oleh Dinas PUPR Jawa Timur, tempat ini kemudian dijadikan lokasi wisata.
“Seorang tokoh masyarakat berinovasi membuat wahana wisata. Kemudian melengkapi secara bertahap,” imbuhnya.
Awalnya, hanya ada wahana bom-bom car dan spot foto. Kini, jumlahnya sudah mencapai 42 wahana. Mulai dari kolam renang, perahu, perahu kayuh, ATV, flying fox, balon air, berkuda, hingga rumah balon.
Yang membuat tempat wisata tersebut eksis hingga saat ini adalah pengunjung tidak dikenakan biaya masuk. Karena itu menjadi idola, bagi anak-anak hingga dewasa.
Gronjong Wariti menawarkan kawasan wisata dengan suasana khas pedesaan. Kawasan wisata ini terbagi dua bagian, yaitu area selatan dan utara sungai. Tepat di tengahnya terdapat area untuk berperahu.
Tempat ini juga menyediakan berbagai permainan seru untuk anak-anak. Kolam renangnya selalu penuh. Salah satunya dilengkapi dengan air mancur dan papan luncur. Ada juga kolam renang penuh dengan bola.
“Pengunjung paling ramai ketika Sabtu dan Minggu atau tanggal merah (hari libur, Red),” kata laki-laki berusia 50 tahun tersebut.
Bikinnya Tradisional, Empingnya Bercita Rasa Tinggi
Desa Mejono tak hanya terkenal karena Gronjong Wariti. Juga terkenal dengan emping melinjo yang banyak dibuat oleh warganya. Mereka tersebar di Dusun Mejono dan Sumbermulyo dengan jumlah ratusan orang.
Para pembuat emping melinjo ini memang masih menggunakan peralatan sederhana. Membuat produk melalui proses manual. Namun, cita rasa yang dihasilkan sangat tinggi. Karena itu Desa Mejono dikenal sebagai penghasil emping berkualitas di Kabupaten Kediri.
“Pembuatan emping masih peralatan manual,” ujar Misdiono, salah seorang pembuat emping.
Menurutnya, membuat emping dengan cara manual punya beberapa keunggulan dibanding menggunakan mesin. Pertama, hemat biaya karena tak menggunakan listrik. Yang kedua, hasilnya bagus dengan rasa yang enak. Karena membuat dengan mesin berpengaruh pada rasa produk.
Misdiono sebelumnya adalah seorang kernet truk. Selama delapan tahun dia menggeluti pekerjaan itu. Sebelum akhirnya berpindah dengan membuat emping.
Awalnya, dia bekerja pada tetangganya. Kemudian, setelah menikah dia membuka usaha sendiri.
Ketika musim melinjo, umumnya November, Misdiono dibantu belasan pekerja. Namun bila belum musim seperti saat ini dia memproduksi sendiri tanpa bantuan.
Menjelang Lebaran pesanan emping Misdiono mengalami peningkatan. Untuk mengatasi hal tersebut, laki-laki kelahiran 1969 ini sudah mulai mengepul sejak akhir tahun. Sehingga saat ini ia tinggal menjualnya.
“Kelebihan dari produk saya ini kering, tahan lama dan tidak mudah jamuran,” kata Misdiono.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah