Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Senden, Kayenkidul, Kabupaten Kediri: Upaya Melestarikan Kesenian Wayang Krucil agar Tidak Punah

Habibaham Anisa Muktiara • Selasa, 5 Maret 2024 | 18:31 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri - Darah seni, terutama wayang krucil, sudah kental di jiwa Ki Harjito Mudho  Darsono. Di keluarganya dia adalah generasi ketiga sebagai dalang wayang khas tanah Jawa Timur ini. Menurun dari sang ayah.

Karena lahir dari keluarga dalang wayang krucil, Ki Harjito sudah mengenal kesenian ini sejak usia tiga tahun. Dari mengamati sang ayah ketika memainkan  wayang, berujung pada keahliannya menggerakkan wayang dan menghafal lakon. Saat kelas tiga SD dia pun sudah ikut pentas.

Bagi anak sekecil itu, tak mudah memainkan anak wayang yang terbuat dari kayu itu. Lebih berat dibanding wayang kulit yang semuanya terbuat dari kulit.

“Kayu tidak selentur kulit. Jadi harus hati-hati agar tetap terlihat bagus,” terangnya.

Cerita wayang krucil pun berbeda. Bukan berlatar Mahabrata atau Ramayana, namun tentang legenda dan cerita berlatar sejarah. Terutama cerita Panji yang jadi warisan budaya Kediri.

Sayangnya, sulit mencari penerus dalang krucil. Sampai saat ini sedikit yang benar-benar mau belajar dalang wayang krucil. Sekarang, Ki Harjito berusaha mengenalkan wayang krucil. Beberapa kali dia melatih pelajar atau siswa membuat wayang krucil.

Dia juga membuat wayang dari kayu mentaos ini. Tak hanya untuk pentas, tetapi juga untuk suvenir. Buatan Harjito sudah dikenal dengan detail dan keindahnya. “Saya inginnya selalu sempurna. Itu kepuasan sebagai seorang seniman,” tuturnya.

Karena itu, dia hanya membuat wayang ini jika ada pesanan. Harganya pun sesuai dengan ukuran dan kesulitan membuatnya. Mulai Rp 350 ribu hingga jutaan rupiah.

Berharap Jadi Buah Tangan Khas 

Desa Senden tidak hanya dikenal dari kesenian wayang krucilnya. Juga terkenal dengan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang digeluti warganya. Salah satunya adalah Ismiati, yang memproduksi kue bolu gulung abon.

“Hobi saya memang membuat kue, kemudian saya kembangkan menjadi bisnis,” jelas perempuan yang disapa Ismi ini.

Mengapa bolu gulung abon? Menurut Ismi, dia ingin berbeda dari yang lain. Berdasarkan riset kecilnya, bolu abon masih jarang ditemui. Kebanyakan bolu gulung yang dijual memiliki rasa keju, cokelat, ataupun selai dari buah-buahan. Dengan membuat bolu gulung abon, dia bisa memperkecil tingkat persaingan.

Tidak perlu waktu lama bagi perempuan 51 tahun ini membuat resep pakem bolu gulung. Terutama dengan latar belakangnya yang bisa membuat berbagai jenis kue, baik basah maupun kering. Dia hanya butuh lima kali percobaan sebelum menyempurnakan resep.

“Dari semua kue yang bisa saya buat, bolu gulung abon ini satu-satunya yang saya daftarkan baik untuk sertifikat halal dan NIB (nomor induk berusaha, Red),” kata Ismi.

Yang membuat unik dan berbeda dengan bolu gulung lainnya, abon yang digunakan memiliki kualitas premium. Tidak hanya itu hiasan bolu gulung ini dihiasi dengan cabai merah, daun bawang, dan wijen hitam.

Untuk saat ini pembuatan bolu gulung abon ini dibuat hanya ketika ada pesanan. Kebanyakan pesanan ini dibuat untuk angsul-angsul, hampers, bahkan untuk seserahan. Sekali membuat pesanan jumlahnya bisa hingga ratusan gulungan.

Bolu gulung ini memiliki panjang sekitar 22 sentimeter. Dalam kemasan, bolu gulung abon sudah dipotong menjadi enam potong. Di setiap potongannya, terlihat melimpah abon yang menggunakan daging sapi. “Per kotak bolu gulung abon ini dijual Rp 60 ribu,” ungkap perempuan warga Dusun Bolo tersebut.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#Desa Senden #dalang #wayang #Profil Desa