KEDIRI, JP Radar Kediri - Dulu, jalan ini hanya akses ke persawahan. Namun, dalam perkembangannya, mulai muncul rumah warga. Pemdes Kepuhrejo pun menyiapkan peningkatan kualitas jalan dengan pengecoran.
Jalan di Dusun Gabru ini mulai sering digunakan. Maklum, banyak rumah yang berdiri di sekitar jalan yang dulu hanya untuk akses ke lahan pertanian ini.
Padahal, selama ini jalan hanya berupa tanah. Kondisinya pun becek bila hujan dan berdebu bila kemarau. Karena itu, sangat perlu ditingkatkan kualitasnya.
"Pemdes kemudian memprogramkan peningkatan kualitas jalan dengan pengecoran," terang Kades Kepuhrejo Kuncoro.
Menurut Kuncoro, dengan kondisi jalan saat ini, yang paling cocok adalah pengecoran bila dibanding pengaspalan. Karena akan jauh lebih awet dibanding bila diaspal. Apalagi yang melintasi juga kendaraan besar pengangkut hasil pertanian.
Jalan yang akan dicor tersebut panjangnya 230 meter. Sedangkan lebar 3,8 meter. Anggarannya berasal dari dana bantuan keuangan khusus dengan nominal Rp 150 juta. Proyek ini rencananya akan dimuali setelah Lebaran.
Selain melakukan pengecoran jalan, pemerintah desa juga akan membangun tembok penahan tanah (TPT) . Lokasinya berada di jalan penghubung Dusun Gabru dan Dusun Pojok. Panjangnya 370 meter. “Tujuannya agar luas jalan tidak menyempit,” ungkap Kuncoro.
Selain itu juga untuk menunjukan batas. Sebab saat ini banyak dibangun rumah penduduk yang baru. Dengan adanya batasan tersebut warga tidak memakan lahan jalan.
Untuk proyek ini, anggarannya menggunakan dana desa (DD). Nilainya Rp 160 juta dan akan dikerjakan juga setelah Lebaran.
Kreativitas Berujung Cuan
Kreativitas tak bisa lepas dari para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Tak terkecuali bagi Nurul Hidayati ini. Pelaku UMKM dari Desa Kepuhrejo ini mampu menghasilkan tas anyaman yang layak jual berbahan kain embos dan tali jali.
Wanita 43 tahun ini mendapatkan keterampilan itu dari pelatihan. "Dulu mengikuti pelatihan di Desa Putih (Kecamatan Gampengrejo)," terangnya.
Ilmu dari pelatihan itu dia terapkan. Nurul membuat tas anyaman plastik yang bisa digunakan untuk keperluan hajatan atau acara selamatan.
Usaha itu dia rintis mulai 2023 lalu. Awalnya hanya mengkaryakan anggota keluarga. Setelah berjalan beberapa bulan, dan pesanan mulai berdatangan, dia merekrut warga desa untuk membantunya.
“Saya ajari ibu-ibu di sini untuk membuat tas anyaman,” terangnya.
Para wanita yang dia ajari itu juga dia beri bahan mentahnya. Setelah barangnya jadi disetorkan kepada dirinya. Dalam sehari, satu orang bisa membuat lima tas.
Tas anyaman plastik tersebut terbuat dari dua bahan, kain embos dan tali jali. Tas anyaman berbahan embos harganya lebih murah. Kebanyakan dipesan untuk wadah makanan saat hajatan. “Kelemahannya, meskipun banyak diminati tapi tidak tahan lama,” terang Nurul.
Kemudian, yang satu lagi adalah berbahan tali jali. Yang jenis ini harganya lebih mahal. Namun lebih tahan lama. Perbandingannya, bila tas embos harganya Rp 5 ribu hingga Rp 35 ribu yang tas jali dari Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah