Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Hari Peduli Sampah Nasional: TPA Kian Overload, Harus Wujudkan Zero Waste

Ayu Ismawati • Rabu, 21 Februari 2024 | 19:20 WIB
OVERLOAD: Kondisi TPA Klotok dengan sampah yang menggunung difoto dari udara.
OVERLOAD: Kondisi TPA Klotok dengan sampah yang menggunung difoto dari udara.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Memanfaatkan waktu di akhir pekan, sekelompok perempuan ini memilih aktivitas yang tak biasa. Bukan jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Atau mengunjungi tempat-tempat wisata yang selalu ramai tiap akhir pekan. Melainkan, mereka memilih bergulat dengan sampah. Memilah berbagai sampah berdasarkan jenisnya. Menimbang beratnya dan mencatat.

Memilah sampah dan mengolahnya menjadi produk yang berguna memang sudah biasa mereka lakukan. Lewat salah satu bank sampah di Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto. Di tempat itu pula  aktivis lingkungan Endang Pertiwi berbagi cerita tentang sejarah peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

“HPSN itu untuk memperingati kejadian ledakan gas metan di TPA (tempat pemrosesan akhir, Red) Leuwigajah,” ujarnya.

Dalam tragedi itu, ratusan nyawa menjadi korban. Begitu pula dua desa yang hilang akibat dampak dari ledakan dan longsoran TPA tersebut. Untuk mengenang tragedi kelam itulah, agar tak terulang, hingga kini 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.

Endang—sapaan akrabnya—menyebut kejadian itu merupakan pengingat akan pentingnya pengelolaan sampah. Jika dibiarkan menumpuk begitu saja, sampah yang berasal dari berbagai jenis itu bisa menjadi senjata pembunuh massal yang luar biasa mematikan.

“Karena itu sistemnya masih dumping. Sistemnya sampah tidak dipilah. Dicampur semua mulai dari sampah organik, anorganik, B3 (bahan berbahaya dan beracun, Red), residu, ada baterai, dan macam-macam,” urainya.

Baginya, mengentaskan persoalan sampah di suatu daerah tak ubahnya mendobrak budaya masyarakat. Konsep zero waste bisa menjawab problematika tersebut. Tak mudah memang. Tapi tetap harus dimulai.

Salah satunya dengan meminimalkan produksi sampah dari kehidupan sehari-hari. Langkah ini harus bisa diterapkan di semua lapisan masyarakat. Selanjutnya, pengolahan sampah harus benar-benar dilakukan dengan mempertimbangkan jenisnya.

“Harusnya memang semua bergerak bersama dan menyadarkan masyarakat untuk memilah. Ada tiga jenis sampah yang pengelolaannya harus dibedakan,” tandasnya terkait pemilahan dan pengolahan sampah organik, anorganik, dan residu dalam konsep zero waste.

Hal itu tidak terlepas dari produksi sampah yang banyak tiap harinya. Padahal, pengelolaannya terbatas.

Kota Kediri misalnya, saat ini memiliki tiga TPA. Namun hanya satu yang aktif menerima dan memproses limpahan sampah dari seluruh penduduk kota.

Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri mencatat, rata-rata tiap harinya TPA 3 Klotok menampung limpahan sampah hingga 140 ton. Tanpa upaya-upaya pengurangan produksi sampah, bukan tidak mungkin Klotok akan menjadi gunung sampah di kemudian hari.

“Yang paling kami tunggu saat ini memang TPA baru nanti yang berkonsep zero waste,” kata Kepala DLHKP Kota Kediri Imam Muttakin terkait upaya pemkot mengurangi persoalan sampah.

Imam—sapaan akrabnya—tak menampik terkait urgensi pengelolaan sampah berkonsep zero waste di Kota Kediri. Salah satunya dengan berfokus pada pemilahan menggunakan bantuan mesin.

“Selama ini kalau di TPA kita pakai sanitary landfill. Jadi pemilahannya pun belum sampai 40-50 persen,” terangnya.

Namun begitu, penerapan konsep ini tak bisa hanya diterapkan di muaranya. Melainkan juga dari hulu atau dari tataran masyarakat. Imam menyebut, atensi pemkot terhadap upaya pengurangan sampah juga akan diwujudkan dengan memaksimalkan tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) dan TPS 3R (reduse, reuse, recycle).

Dari 46 kelurahan di tiga kecamatan di Kota Kediri, baru ada delapan TPST dan TPS 3R. Tugas mereka adalah mengolah sampah sebelum dibuang ke TPA. Sehingga, bisa mengurangi beban pengolahan sampah di tempah pemrosesan terakhir. 

"Kami ingin betul-betul maksimalkan. Supaya nanti ketika sampah itu masuk ke TPA sudah berupa residu,” ujarnya.

Dengan adanya TPST itu, menurutnya bisa membantu mengurangi beban sampah yang masuk di TPA Klotok sekitar 25-30 ton per hari. Sayangnya, dari delapan TPST tersebut, baru satu yang dilengkapi dengan mesin pemilah sampah. Yakni, yang berada di Kelurahan Banjarmlati, Kecamatan Mojoroto.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kediri #zero waste #sampah