Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mereka yang Berjuang Menggalakkan Zero Waste Lifestyle di Kediri

Ayu Ismawati • Rabu, 21 Februari 2024 | 19:16 WIB
TELATEN: Kader bank sampah menimbang sampah yang disetor warga.
TELATEN: Kader bank sampah menimbang sampah yang disetor warga.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Jemari Marsiti, 55, terus bergerak menggunting plastik sisa kemasan kopi instan. Menjadikannya rumbai-rumbai yang lebih kecil. Sesekali ia mengistirahatkan tangannya karena lelah. Atau, keram karena menggunting terlalu lama.

Memilah dan mendaur ulang sampah plastik sudah menjadi rutinitasnya tiap akhir pekan. Bersama ibu-ibu lainnya, ia telaten mengubah sampah plastik menjadi produk berdaya guna. Salah satunya, bantal sofa dan sandaran handphone.

“Dulu ya banyak anggotanya. Sekarang nggak tahu semakin banyak yang hilang,” ujarnya.

Maklum, menjadi anggota bank sampah memang bukan pekerjaan utama. Banyak anggota yang tidak lagi aktif. Salah satunya karena diterpa kesibukkan lain.

Ikut bergabung di Bank Sampah Hijau Daun sejak 2012 lalu telah banyak mengubah pola pandangnya terhadap sampah. Jika dulu ia enggan menyentuh sampah, kini sampah-sampah itu bisa disulap menjadi produk-produk kreatif.

Tentu, perjuangan merawat bumi itu tidak selalu menyenangkan. Di awal bank sampah berdiri, belum banyak masyarakat yang memahami konsepnya.

“Ada yang bawa ke sini satu kantong sampah campur-campur isinya. Bahkan ada yang isinya pembalut bekas juga. Jadi dikira semua sampah bisa dibawa ke sini,” kenang Dwi Agustina, 56.

Tin—sapaan akrabnya—sampai terheran-heran. Bahwa kesadaran masyarakat memilah sampah masih sangat rendah. Meski begitu, ia tak kapok berjuang untuk zero waste lifestyle.

Perjalanan para pegiat lingkungan ini masih panjang. Seperti halnya bagi Endang Pertiwi, aktivis lingkungan dari Yayasan Hijau Daun Mandiri. Baginya, akar permasalahan sampah tak hanya dari sisi kebijakan. Melainkan juga gaya hidup masyarakatnya yang belum bisa lepas dari produksi sampah. Khususnya, plastik sekali pakai.

“Masyarakat sering kali tidak proaktif. Hanya mau menjadi penonton,” katanya saat menceritakan perjalanannya dari desa ke desa mengedukasi masyarakat dan membersihkan sungai dari sampah.

Ia geram mengingat acuhnya masyarakat dengan dampak sampah. Pernah suatu waktu ia bersama relawan lainnya membersihkan sampah di sungai. Bukannya membantu, masyarakat setempat justru acuh.

“Diteriakin, ngapain dibersihkan. Habis ini juga hujan, sampahnya nanti juga hilang sendiri,” ujarnya heran dengan pola pikir salah kaprah di masyarakat.

Jika perempuan asal Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto itu lebih banyak berjuang mengedukasi masyarakat di desa atau hulu sungai, lain halnya dengan Chandra Iman Asrori. Pemuda asal Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri itu lebih banyak bergerilya mengedukasi teman-teman sebayanya.

Perjuangannya menggaungkan zero waste lifestyle ia mulai dari dirinya sendiri. Konsisten tidak menggunakan plastik sekali pakai menjadi 'jalan ninjanya'. Meski ia kerap diejek dengan sebutan ‘manusia tumbler’, atau ‘manusia anti-kresek’, dan ejekan-ejekan lainnya.

“Tapi itu membuat saya semakin semangat mengedukasi. Artinya mereka sudah paham bahwa bawa tumbler itu cara nyata implementasi zero waste lifestyle,” ucapnya.

Menggaungkan pola hidup minim sampah masih penuh dengan tantangan. Bagi banyak anak muda seusianya, barangkali sudah terbiasa menggunakan plastik sekali pakai. Padahal, bahaya plastik sekali pakai tidak hanya bagi lingkungan. Tapi juga kembali lagi kepada manusia melalui mikroplastik di lingkungan.

Oleh sebab itu, edukasi tentang zero waste lifestyle ia lakukan dengan cara yang kekinian. Salah satunya lewat media sosial. Dengan harapan, pesan penerapan pola hidup minim sampah bisa lebih diterima masyarakat. Khususnya anak muda. 

“Anak muda pakai plastik sekali pakai itu nggak keren belass. Sudah tahu bahaya tapi kok masih pakai,” kelakarnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kediri #zero waste #sampah