KEDIRI, JP Radar Kediri - Selain menyerang pertahanan fisik penderitanya, kanker juga dikenal rawan meluluhlantakkan mental seseorang. Diagnosa penyakit ini dianggap sangat memukul bagi sebagian orang.
Psikolog Klinis Kristika Sadtyaruni mengungkapkan, hampir semua pasien kanker mengalami fase-fase perubahan psikologis. Salah satunya dipicu anggapan bahwa penyakit ini sulit disembuhkan.
Adapun perubahan psikologis itu terdiri dari lima fase. Di antaranya denial atau penyangkalan, anger atau marah, bargaining atau menawar, depresi, dan acceptance atau penerimaan.
“Pertama dia pasti menyangkal. Oh mungkin dokternya salah, saya kan masih muda. Akhirnya dia berusaha mencari second option dengan periksa ke dokter lain,” ujarnya.
Perubahan emosi itu akan berangsur-angsur menjadi kemarahan. Salah satunya terlihat dari luapan kemarahan yang ditujukan kepada orang lain. Namun, kemarahan itu merupakan marah yang tidak terdefinisikan.
“Yang paling parah kalau sudah masuk di fase depresi. Dan ini rentan dirasakan penyintas kanker. Dia mulai menarik diri dari sekitarnya. Dan ini fase yang perlu bantuan,” jelasnya.
Perubahan sikap yang didasarkan kondisi psikologis itu, menurutnya tak terlepas dari anggapan bahwa penyakit ini sulit disembuhkan. Namun, penyebab depresi tidak serta merta karena kondisi kesehatan yang menurun. Tekanan mental yang dirasakan justru lebih kompleks.
“Mungkin juga karena sakit, dia jadi tidak bisa menjalankan fungsi sosialnya. Misalnya dia seorang kepala keluarga tidak bisa bekerja karena sakit,” sambungnya.
Oleh sebab itu, perempuan asal Kelurahan Ngronggo itu menekankan pentingnya peran orang terdekat. Yakni, untuk memberi dukungan sosial atau sebagai support system bagi pasien kanker. Sebab, mereka akan sangat rentan putus asa dan kehilangan harapan selama berjuang melawan kanker.
“Misalnya menyemangati untuk tetap menjalankan treatment-nya, menguatkan, dan membangun harapannya,” lanjut perempuan yang juga praktisi di RSUD Gambiran itu.
Ia tak menyangkal, dukungan sosial tak hanya dibutuhkan oleh pasien. Melainkan juga caregiver atau orang yang merawat. Karenanya, di setiap konseling dengan penderita kanker, orang terdekat atau keluarga juga perlu diedukasi. Termasuk bagaimana menanggapi pasien yang tengah berada di fase perubahan psikologis itu. Atau, yang juga dikenal dengan lima tahapan kedukaan Kubler-Ross itu.
"Seperti saat pasien berada di fase marah. Tidak bisa kita menasihati. Hanya bisa menemani. Biarkan dia meluapkan rasa marahnya dengan sehat. Dengan begitu dia bisa lega,” tandasnya sembari menyebut keluarga pasien juga harus diedukasi tentang bentuk pendekatan itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah