KEDIRI, JP Radar Kediri - Bagi warga Desa Tawang membuat dan menjual jamu tradisional adalah keahlian yang mereka dapat secara turun-temurun. Menjadi usaha mayoritas warga. Kini, pemerintah desa bertekad mem-branding diri menjadi Kampung Jamu.
Soal usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Desa Tawang, Kecamatan Wates punya banyak. Salah satunya adalah produksi jamu tradisional. Tak tanggung-tanggung, ada 150 keluarga yang terjun di bidang ini.
Wajar bila kemudian Pemdes Tawang mengambil langkah berani. Mem-branding desa mereka menjadi Kampung Jamu.
“Kebetulan ada program dengan Poltek Malang yang berada di Kediri,” terang Sekretaris Desa (Sekdes) Tawang Aries Sulistiawan.
Tujuannya, tentu saja menggali potensi yang dimiliki warga desa. Sekaligus memperkuat pasar di sektor tersebut. Agar produk jamu dari desa ini lebih memiliki nilai ekonomi bagi warga.
Beberapa peningkatan pun dilakukan. Bila sebelumnya pengemasannya dengan botol bekas air mineral dalam kemasan (AMDK) dan dijual tanpa label, kini tidak lagi. Jamu produk warga dikemas khusus dengan disertai label.
“Hal ini dapat meningkatkan kualitas produk,” tegas Aries.
Soal penjualan juga diperhatikan. Mereka akan memanfaatkan pusat oleh-oleh. Produk jamu Desa Tawang akan dititipkan di tempat-tempat itu. Agar branding Desa Tawang sebagai Kampung Jamu akan semakin kuat.
Tak hanya jamu yang bisa dijual oleh Desa Tawang, Wates. Ada pula wisata sumber air yang potensial. Namanya Sumber Plumpungan.
Tempat ini sebenarnya sudah resmi dibuka sejak 2020 silam. Tapi terbengkalai akibat pandemi Covid-19. Kini, Pemdes Tawang merencanakan bakal menghidupkan kembali aset wisata ini.
“Sumber Plumpungan akan diperbaiki. Meskipun belum jadi prioritas saat ini. Bila tidak tahun ini, maka bisa tahun depan,” terang Sekdes Arie Sulistiawan.
Konsepnya, masih sama. Menghidupkan wisata lokal untuk mendukung sektor UMKM. Sekaligus upaya menyejahterakan warga desa.
Bila ada yang berbeda, yaitu keterlibatan dengan desa tetangga. Kerja sama itu agar bisa memperluas akses dan potensi.
Sumber Plumpungan sendiri mengusung konsep wisata alam. Mempertahankan suasana sealami mungkin. Beberapa fasilitas disediakan, seperti rumah pohon dan wahana permainan anak.
Masuk ke lokasi wisata ini tak berbayar. Pengunjung hanya membayar untuk wahana yan gbutuh biaya operasional, seperti kolam renang, rumah pohon, dan pemancingan.
Dulu, banyak kegiatan digelar di tempat wisata ini. Di antaranya adalah event ‘Seribu Jamu’. Jamu racikan warga disediakan untuk pengunjung.
Baca Juga: Ketika Warga Binaan Lapas Kediri Mendapat Pelatihan Linting Rokok
Yeni Agustina memang baru pertama kali ini terpilih sebagai kepada desa. Namun, dia sudah tidak asing dengan dunia kades. Sebab, beberapa waktu sebelumnya, suaminya-Aris Susanto-sudah pernah menjabat menjadi kades Tawang, Kecamatan Wates.
Karena itulah, wanita yang sebelumnya adalah ibu rumah tangga ini sudah memiliki ancang-ancang bagaimana memajukan desanya. Yaitu dengan meningkatkan kualitas infrastruktur hingga pemberdayaan UMKM. Selain itu, satu hal yang juga diperhatikan perempuan 46 tahun ini adalah sektor olahraga.
“Nanti, saya akan membuat lapangan voli,” tegasnya.
Bukan tanpa sebab Yeni akan membuat lapangan voli. Sebab, ibu-ibu di desa ini sangat menggemari olahraga ini. Bahkan, bila latihan, sampai meminjam lapangan di SMK Karya Wates.
Dia berharap, dengan adanya lapangan voli nanti, akan mewadahi warganya yang menggemari olahraga ini. Juga, sekaligus bisa dimanfaatkan oleh para pelajar. Baik di tingkat SD, SMP, dan SMK.
Rencananya, lapangan voli yang akan dibangun itu berlokasi di Dusun Tawang. Dengan konsep outdoor lapangan tersebut dilengkapi beberapa fasilitas penunjang.
“Seperti akan dilengkapi dengan jogging track,” pungkas Kades Yeni.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah