Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bangkrut karena Pandemi, Inilah Sosok Estu yang Mampu Bangkit Lagi dengan Bisnis Kerajinan Tas Kain

Emilia Susanti • Selasa, 26 Desember 2023 | 18:07 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri - Estuningtyas menunjukkan tumpukan kain di etalase yang ada di rumahnya. Terlipat dan tersusun rapi. Motifnya pun beragam. Ada yang garis-garis, ada juga bercorak batik.

“Kalau ada yang pesan saya tunjukkan bahan yang ada. Kalau ingin yang lain ya saya carikan dulu,” ucap ibu dua anak ini.

Warga Kelurahan Pare, Kecamatan Pare ini memang bergelut di usaha kerajinan tas dan dompet. Bahannya dari kain, yang dia perlihatkan menumpuk di etalasenya itu.

“Belajarnya otodidak, awal-awal masih bikin tas pakai jahit tangan,” sambungnya. Saat bercerita itu dia mengambil satu tas dari etalase. Ketika dilihat, sangat mengejutkan. Jahitan tangan itu sangat rapi. Lurus seperti hasil jahitan mesin.

“Saya memang bikin garis bantu agar lurus,” terangnya, menjelaskan pada koran ini.

Kelemahannya, cara manual itu waktunya lama. Satu tas bisa satu minggu. Padahal bila dengan mesin, hanya butuh tiga hari. Karena itu, pada 2019 dia ganti menggunakan jahit mesin. Artinya, itu satu tahun setelah dia mulai menerjuni bidang ini.

Estu mengawalinya dari satu komunitas penjahit craft. Setelah tertarik, dia pun mempraktikkan. Ternyata, diterima oleh pasar.

Produk kerajinan buatan Estu dia beri nama Ndhog Ceplok. Terinspirasi menu lauk favoritnya, yaitu telur ceplok. Peminatnya hampir dari seluruh daerah di Indonesia. Pasalnya, dia aktif memasarkan melalui Instagram.

“Order dari Kediri jarang. Yang sering Jakarta, Bandung, pernah Kalimantan. Baru-baru ini dari Bali (yang sering pesan, red),” papar wanita lulusan Universitas Negeri Malang ini.

Kepada calon customernya, Estu memberikan kebebasan menentukan model. Dia hanya memberi beberapa contoh, yang referensinya dari internet. Hingga akhirnya, akun Instagram yang menampilkan karya kerajinan tasnya dilirik oleh Bhayangkari Polres Kediri.

“Orangnya DM (direct massage, Red) ke saya minta alamat. Terus ke sini minta dibuatkan dompet untuk kegiatan seperti Fashion Show di Polda Jatim,” terang wanita yang mengaku sudah dua kali diminta membuatkan tas untuk acara tersebut.

Terbaru, produk tasnya berhasil tampil pada acara Kediri Fashion Batik Festival 2023 yang berlangsung pada November lalu di Simpang Lima Gumul (SLG). Estu mengaku senang dan bangga dengan kesempatan yang dia dapatkan itu.

Baca Juga: Cerita Duka Keluarga Indri, Remaja yang Ditemukan Meninggal di Area Gua Jegles

“Nggak nyangka. Saya dapat informasi dari teman, katanya diminta bikin produk tas yang ada motif batiknya,” ujarnya sembari menyebut ada dua tas yang ditampilkan pada acara tersebut.

Namun, perjalanan usahanya ini tak berjalan dengan mudah. Bisnis kerajinan ini sempat gulung tikar dihantam pandemi Covid-19. Kios yang dia sewa belasan juta rupiah di kawasan Kampung Inggris harus tutup. Pesanan tas pun mati.

Perempuan lima bersaudara ini tak tinggal diam. Meski sedang redup, Estu menyulap sisa kain yang dimilikinya menjadi masker. Dia pun berhasil membuat masker yang berjumlah ratusan. Bukan untuk dijual, tapi didonasikan.

“Saya beramalnya hanya bisa lewat ini,” jelasnya sembari menyebut saat itu ada komunitas yang sedang melakukan penggalangan masker.

Tak disangka, dari masker hasil buatannya itu, banyak orang-orang yang kemudian melakukan pesanan. “Setelah itu ternyata banyak yang pesan. Ada yang pesan untuk souvenir pernikahan,” terangnya.

Perlahan, bisnis Estu pun masih bisa berjalan. Kini, pesanan tas sudah berdatangan. Dalam satu bulan, ada sekitar dua puluh orang yang memesan. Entah melalui Instagram, Facebook, maupun dari teman-temannya. Omzet dalam satu bulan pun bisa mencapai Rp 3 juta. Hasilnya ini dia gunakan untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarganya.

“Pesanan masih saya kerjakan sendiri. Saya memang membatasi untuk satu bulan hanya 10 pesanan,” jelasnya dengan menyebut produk tasnya dibanderol paling banyak Rp 450 ribu.

Selanjutnya, Estu mengaku masih akan belajar untuk menggunakan mesin jahit yang menggunakan listrik. Untuk pesanan seperti souvenir pernikahan yang jumlahnya ratusan, dirinya terpaksa meminta bantuan ke teman-teman sesama penjahitnya.

“Pengennya ya nanti punya galeri sendiri, untuk memajang tas-tas yang saya buat,” harapnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kabupaten kediri #pengrajin tas anyaman