Meskipun berlabel negeri, sekolah dasar ini tak lagi menempatkan belajar Alquran sebagai ‘selingan’. Melainkan ditempatkan menjadi pelajaran tersendiri. Selain untuk mengakrabkan siswa muslim dengan Alquran, juga untuk mengangkat trust sekolah yang sempat menurun.
LANTUNAN ayat-ayat Alquran menggema dari sudut-sudut Sekolah Dasar Negeri (SDN) Balowerti 2. Ada yang datang dari ruang kelas. Ada pula yang berasal dari aula sekolah. “Ayo, ayat satu sampai tiga diulangi,” perintah seorang wanita berjilbab warna hijau, di salah satu ruang kelas sekolah yang berada tidak jauh dari lokasi pabrik rokok besar di Kediri, PT Gudang Garam Tbk. Wanita itu adalah Erna. Dia bukan guru sekolah tersebut.
Melainkan tenaga pengajar khusus yang didatangkan untuk pelajaran Alquran. Saat itu dia mengajari anak-anak kelas V bacaan Surat Al-Qadr. Bocah-bocah belasan tahun itu sebagian tak menyimak dengan baik perkataan gurunya tersebut. Ada yang bergurau dengan temannya, ada pula yang terlihat malas-malasan. Beberapa anak juga terlihat beranjak dari bangkunya tanpa sebab.
Sesekali sang ustadzah menegur muridnya yang ti dak tertib seperti itu. Na mun, masih dengan kesabaran, dia terus mengulang huruf demi huruf, ayat demi ayat. Juga dari satu surat ke surat yang lain.
“Nadanya ini harus tinggi. Ulangi, satu..dua...tiga,” perintahnya sembari mengayunkan tongkat penunjuk kecil ke arah papan, yang telah dibubuhi ayat-ayat dari surat pendek dalam Alquran. Di sekolahan ini, pelajaran Al quran sudah diterapkan se jak pertengahan tahun lalu. Bukan ekstra kurikuler.
Baca Juga: Tirta Ayu Wening di Plosoklaten Kediri Kerap Jadi Lokasi Mandi dan Cuci Warga
Melainkan menjadi ma ta pelajaran wajib. Secara khu sus, mengaji dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Pelaksanaannya memang tidak serentak. Terbagi dalam sebelas kelompok. Rutinitas ini dilakukan mulai pukul 07.00 hingga 10.00, secara bergantian. Menyesuaikan dengan jadwal mata pelajaran yang lain. Menurut pihak sekolah pelajaran ini bertujuan mengakrabkan murid muslim dengan Alquran, pedoman hidup umat Islam.
“Ini memang kami kampanyekan ya, bahwa setiap anak Muslim harus bisa mengaji. Selain itu juga karena trust masyarakat ke SDN Balowerti 2 yang sempat rendah. Seperti yang sekarang kelas tiga itu hanya dapat sedikit siswa barunya,” terang Kepala SDN Balowerti 2 Kota Kediri Gunardi.
Oleh sebab itulah kegiatan mengaji mulai digaungkan. Bukan lagi sekadar ‘selingan’ di antara aktivitas anak di sekolah. Lebih dari itu, mengaji dipandang tak kalah pentingnya dengan aspek akademik maupun nonakademik lainnya. Oleh sebab itu, mengaji tidak lagi merupakan ‘ekstra’ . Melainkan sudah terjadwal bagi masing-masing siswa. Tentunya, dengan target dan capaian sebagaimana pelaksanaan mata pelajaran lainnya.
“Kami berharap keberkahan dari anak-anak belajar Alquran ini bisa membantu kegiatan belajar di sekolah. Jadi bukan (pola pikir) pagi-pagi kok belajar Alquran, lah nanti matematikanya bagaimana? Melainkan dengan mengaji dulu, diharapkan belajar lainnya bisa lebih dimudahkan,”
urai sang kepala sekolah.
Baca Juga: Jatuh Bangun sebagai Peternak Domba, Inilah Kisah Andi Setyawan
Gagasan itu juga tidak terlepas dari makin maraknya degradasi keilmuwan anak akan pendidikan agama. Taman pendidikan Alquran (TPQ) dianggap tak seramai dulu. Butuh intervensi khusus agar anak-anak Muslim tetap dekat dengan Alquran. Di sekolah ini, setiap Senin hingga Kamis, siswa yang muslim akan terbagi dalam 11 kelompok. Merkea mengaji sesuai kemampuan. Ada yang masih tajwid dasar, ada pula yang sudah tahfiz Alquran juz 30. Semua mendapat kesempatan yang setara untuk belajar.
Yang mengajar juga punya keahlian di bidangnya. Ada lima orang pengajar Alquran. Yang semuanya terlah bersertifikat. “Tujuan akhirnya kami ingin memesrakan anak dengan Alquran. Pada akhirnya tetap pada perbaikan karakter,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah