Lelaki ini pernah memulai usaha budi daya lele. Namun, bangkrut dan terlilit utang. Kini, dia mencoba peruntungan sebagai peternak domba.
Suara mengembik terdengar riuh dari belakang rumah warga Dusun Jambu, Desa Tunge, Kecamatan Wates ini. Berasal dari ratusan ekor hewan ternak berbulu tebal yang berada di kandang kayu. Ya, si pemilik rumah, Andi Setyawan, merupakan peternak domba dan kambing.
“Saya mulai beternak awal 2014. Setelah Gunung Kelud meletus,” Andi mengenang awal dia menekuni sebagai peternak domba.
Peternak Domba Agro Mandiri ini memang tak bakal lupa dengan letusan Gunung Kelud itu. Gara-gara letusan itulah usaha budi daya lele yang dia tekuni waktu itu harus gulung tikar. Hingga dia terbelit hutang. Padhaal, saat itu dia memiliki belasan kolam dan puluhan ribu benih ikan tersebut.
“Saat itu saya punya 12 kolam yang berisi 60 ribu benih. Semuanya mati akibat letusan,” kenangnya.
“Induk ikan stres dan imunitasnya turun. Jadi gampang sakit,” sambung pria 32 tahun ini.
Tak hanya rugi, Andi pun terbelit utang. Nilainya hingga Rp 70 juta. Untungnya saat itu pihak bank memahami kondisi Andi. Serta bersedia memberi keringanan dengan memberi tempo selama enam bulan boleh tak melakukan pembayaran.
Kesempatan itu tak disia-siakan. Bermodal sisa tabungan dan uang angsuran yang ditunda itu Andi membeli domba. Semula dia membeli dua ekor domba bunting. Harganya Rp 1 juta.
Mengapa murah? Karena saat itu, 2014, harga kambing atau domba sedang jatuh-jatuhnya. Bahkan sampai tidak laku,” terang suami dari Risa Nurlaila ini.
Karena sedang jeblok, dia tidak langsung menjadikan ternak domba sebagai bisnis. Melainkan hanya untuk dipelihara saja. Ternyata, dalam kurung waktu setengah tahun piaraannya berkembang pesat. Setelah setahun berkembang menjadi 12 ekor. Baik dari hasil perkembangbiakan induk atau membeli lagi.
“Selama satu tahun saya puasa. Tidak menikmati uang dari hasil ternak domba,” kata bapak dua anak tersebut.
Hingga 2015, Andi mulai bertemu dengan teman-teman yang bergelut di bidang perdombaan. Selain memperluas relasi, juga menimba ilmu tentang pemasaran domba. Dia kemudian mulai melakukan bisnis usaha penjualan domba dengan sistem pembesaran.
Empat tahun kemudian, bisnis penggemukan domba ternyata banyak diterjuni pemain baru. Persaingan pun menjadi ketat. Sehingga permintaan pasar mulai menurun.
Tak ingin melakukan kesalahan dua kali, Andi pun berinovasi. Membuat pupuk dari kotoran domba peliharaannya. Kemudian, untuk memasarkan ternaknya dia bekerja sama dengan restoran hingga jasa akikah.
Editor : Anwar Bahar Basalamah