Azan bukan sekadar mengumandangkan lafaz panggilan salat saja. Namun, ada persoalan ketepatan tajwid serta keindahan suara dan lagu. Kedua hal itulah yang mampu dipadukan oleh Gunardi.
Nada sungkan terasa dari ucapan Gunardi ketika ditanya perihal lomba yang baru dia menangkan, lomba azan di ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) se Jatim. Sebab, menurutnya, masih banyak kelas lomba yang lebih bonafid.
“Karena ini kan walaupun azan juga penting, tapi ya sekadar azan saja. Karena skup-nya provinsi mungkin vibes-nya berbeda,” ucap Kepala SD Negeri Balowerti 2 ini merendah.
Ya, pengajar ini memang baru saja sukses tampil di ajang itu. Menjadi juara ketiga dalam lomba azan. Mewakili Kota Kediri bersaing dengan 32 kontestan dalam event terkait peringatan HUT Korpri tersebut.
Padahal, seni azan tidak bisa dipandang sepele. Meski banyak orang bisa membawakan seruan penanda waktu salat itu, namun tidak banyak yang bisa membawakannya dengan baik. Di antaranya tepat pelafalan tajwidnya dan indah suaranya.
Itulah yang membedakan dengan Gun—sapaan akrabnya—. Dia bisa membuktikan kedua hal tersebut dilakukan berdampingan. Pelafalan azan yang diucapkannya terdengar berbeda bila dibanding ketika bersuara dalam keseharian. Suaranya saat berbicara cenderung nyaring. Namun, tiba-tiba berubah saat ia melantunkan azan. Nada suaranya seperti bernada lebih rendah dan mendayu-dayu.
“Sejak kecil memang sudah sering membawakan azan. Sekarang pun di masjid terkadang masih sering. Cuma memang lebih sering mengimami,” sambung pria asal Wates, Kabupaten Kediri itu.
Meski sudah terbiasa melantunkan azan, bukan berarti ia memandang enteng perlombaan se-Jatim itu. Rasa gugup tetap membayanginya karena embel-embel ‘mewakili daerah’ yang diampunya. Bahkan, ia sempat pesimistis lantaran sakit batuk saat pelaksanaan lomba.
Ia pun berusaha tetap memaksimalkan persiapan di tengah waktu yang terbatas. Salah satunya, berlatih selama perjalanan. “Persiapannya anggap saja waktu azan di masjid. Pernah waktu perjalanan ke sana (Badan Kepegawaian Daerah Surabaya, tempat lomba, Red) waktu subuh itu saya bilang ke teman-teman ayo ndang budal (ke masjid). Nanti kalau ada kesempatan, saya tak azan dulu,” kelakarnya.
Ia mengingat kembali saat dua hari berada di Surabaya untuk mengikuti Korpri Awards 2023. Setiap memasuki waktu salat ia selalu usahakan bisa berjamaah di masjid. Syukur-syukur, diberi kesempatan membawakan azan. Upaya itu mendapat hasilnya. Dengan persiapan yang serba mepet, ia bisa membawa pulang piala juara 3 di perlombaan aparatur sipil negara (ASN) se-Jawa Timur itu.
“Ini menurut saya, mungkin bagian hayya alash shala yang menarik perhatian juri. Karena di sana saya pakai teknik yang saya rasa belum banyak dipakai oleh muazin,” pungkasnya sembari tersenyum.
Editor : Anwar Bahar Basalamah