Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal Tantular, Tim Penanganan Tawon dan Ular di Bawah Naungan LPBI NU

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 30 November 2023 | 16:54 WIB
BUKAN KOLEKSI: Agus Mujiono, anggota Tantular menunjukkan ular sanca albino yang berhasil diamankan. Ular tak berbisa itu kini jadi sarana edukasi.
BUKAN KOLEKSI: Agus Mujiono, anggota Tantular menunjukkan ular sanca albino yang berhasil diamankan. Ular tak berbisa itu kini jadi sarana edukasi.

Banyak kisah menarik yang dialami para sukarelawan penangkap tawon dan ular ini. Kadang, ada orang yang dibantu tapi malah minta hewan tersebut dibeli. Padahal mereka melakukannya bukan untuk kepentingan materi. 

Kotak-kotak tersusun rapi di sebelah ruang tamu di rumah milik Agus Mujiono di Desa Pule, Kecamatan Kandat. Kotak yang bertumpuk itu bukanlah kotak biasa. Namun, sejatinya adalah kandang-kandang hewan berbisa. 

Sedikitnya ada 20 kandang berisi ular yang ada di rumah sederhana itu. Hasil tangkapan si pemilik rumah dibantu dengan anggota kelompoknya. Hewan-hewan itu diambil dari rumah-rumah warga.

Ukurannya pun beragam. Tujuh di antaranya ber-size jumbo. Lainnya kecil hingga sedang. Jenisnya? Beragam pula. Mulai dari yang tidak berbisa hingga yang punya racun mematikan.

Siapa si pemilik rumah yang punya aktivitas menangkap hewan liar itu? Mereka adalah anggota tim penanganan tawon dan ular, yang disingkat mereka sebagai Tantular. Kelompok ini di bawah naungan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Nahdlatul Ulama.

“Dulu awalnya masih jalan sendiri-sendiri,” aku Romelan, salah seorang relawan yang juga merupakan penggagas Tantular. Vina Nofianto dan Agus anggota lainnya yang ada di sebelahnya mengangguk mengiyakan.

Usia komunitas ini terbilang muda. Baru dua tahun. Awalnya karena sering dimintai tolong tetangga untuk menangkap ular yang masuk rumah. Atau mengamankan sarang tawon yang berbahaya. Lama-lama, mereka sering bertemu. Hingga akhirnya membentuk tim relawan.

Tujuan mereka tak muluk. Berharap bisa bermanfaat bagi orang lain. “Dan orang yang bermanfaat adalah orang yang bisa membuat aman, nyaman dan senang,” imbuh Romelan.

Dari situlah Tantular berawal. Perkembangannya diwarnai aneka kisah. Mulai yang unik hingga menyebalkan. Termasuk pernah dianggap menangkap ular hanya untuk kepentingan materi semata. 

Vina punya contohnya. Suatu saat di sela-sela pekerjaannya sebagai pegawai rumah sakit, dia mendapat panggilan. Ada ular kobra masuk kandang ternak warga. Tidak pikir panjang, perempuan umur 35 tahun ini langsung mendatanginya. Setelah berhasil menangkap, ternyata si pemilik kandang justru bertanya soal harga.

“Saya jelaskan bahwa ular ini dilepas lagi di alam liar. Eh, dia tetap tak percaya,” terang perempuan asal Udanawu, Blitar ini. 

Dalam perkembangannya, LPBI NU melirik aktivitas ini. Kebetulan banyak dari mereka adalah anggota Banser, lembaga yang ada di bawah naungan NU. Akhirnya Tantular disahkan dan masuk menjadi sub bagian di LPBI NU. Di sub bidang Kedaruratan. 

Setelah itu Tantular kian dipercaya. Punya naungan resmi membuat mereka tidak lagi dipandang miring. 

Sebenarnya tidak semua ular yang ditangkap selalu disimpan. Itu hanya untuk keperluan edukasi masyarakat. Jika ada panggilan untuk mengisi kegiatan di sekolah atau pun suatu perkumpulan tertentu. Bisa menjadi hewan peraga. 

"Kalau ada jenis yang sama di lepas, kalau ada jenis yang belum dipunyai dirawat," jelas Agus. Tidak jarang kenalan mereka juga menghibahkan maupun menitipkan ular kepada Tantular. Ada yang karena sebagai tanda terimakasih. Ada pula yang karena sudah percaya dengan Tantular. 

Ular-ular itu perawatannya susah-susah gampang. Setiap ular memiliki karakteristik sendiri. Ada yang perlu dimandikan. Ada yang perlu diberi air agar tidak kepanasan. Itu pun tidak bisa dilakukan sembarangan. Harus memiliki keterampilan sendiri. Karena bila dilakukan oleh orang yang tidak ahli bisa berbahaya. 

Untuk makananya ayam dan tikus putih. Ular yang besar dalam sebulan bisa habis 16 ekor ayam. Ditambah tikus putih untuk camilannya. 

Walaupun sudah tergabung dalam LPBI NU, namun anggarannya masih mandiri. Dari iuran anggota atau pun bila ada sumbangan. Bisa dari orang-orang yang dibantu, atau pun orang-orang yang mengundangnya untuk keperluan edukasi. Tapi itu pun tidak selalu. 

"Untuk ayam biasanya cari tiren di peternakan-peternakan, kadang balapan sama peternakan lele," aku Agus. 

Walaupun belum ada anggaran yang pasti. Mereka tetap melakukannya dengan sukarela. Karena tujuannya bukan untuk komersial. Melainkan untuk membantu manusia, dan hewan itu sendiri. 

"Karena ular juga penting untuk ekosistem. Ekosistem kembalinya ke manusia," jelas Romelan. 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kisah #ular #tawon #rescue