Berawal dari hobi, bisnisnya sempat menghasilkan cuan yang luar biasa. Sayang, pandemi membuatnya bangkrut. Kini, dia bisa memulai lagi meskipun tidak seheboh seperti dulu.
Sebagai putra asli Kalimantan, Muhammad Iqbal Kurnianto sangat menyukai apa-apa yang terkait dengan alam. Entah itu hewannya, tanaman, maupun segala sesuatu yang terkait dengan hal itu. Maka, ketika dia bertemu dengan komunitas penyuka aquascape, saat berkuliah di Malang sejak 2011, seperti mendapat rangsangan yang sangat kuat. Saat itu pun dia langsung tertarik dengan hobi memelihara ikan di akuarium yang dipadu dengan tanaman air itu.
Tapi, yang dia minati bukan soal ikan dan akuariumnya. Melainkan tanaman akuatiknya. Rasa penasaran dan keingintahuannya dia puaskan dengan bergabung dengan komunitas pecinta jenis tanaman itu.
Naluri bisnisnya segera saja terasah. Ketika studinya hampir selesai pada 2015, dia pun pulang kampung. Tujuannya, mengeksplorasi lagi hobinya itu.
“Tapi saya mengajak beberapa turis, yang juga pecinta tanaman akuatik,” terang pria kelahiran 1993 ini.
Dari situlah tonggak bisnis tanaman akuatiknya dipancangkan. Para turis yang juga ahli botani itu diajaknya berkeliling melihat beragam tanaman air yang sangat beragam di tempat asalnya. Begitu ada yang diminati, pria yang biasa disapa Iqbal ini langsung berjanji mengirimnya.
“Sejak itu saya langsung melakukan ekspor (tanaman akuatik) ke negera mereka,” kenangnya sambi menyebut nama negara seperti Jerman, Norwegia, Hongkong, dan Taiwan sebagai tujuannya.
Jenis tanaman yang pertama dia ekspor adalah bucephalandra. Yang habitat aslinya memang di Kalimantan. Harganya, tidak main-main, antara 150 hingga 250 dolar Amerika! Memang, cara menjualnya secara kiloan.
“Jika dijual per batang harganya bisa 75 sampai 100 dolar (Amerika) per batang,” sambungnya.
Setahun kemudian, keluarga Iqbal pindah ke Kediri. Tepatnya di Desa Bogemutara, Kecamatan Gurah. Di sini bisnisnya tetap berlanjut. Bahkan ekspornya kian meluas. Tidak lagi di negara-negara itu saja. Melainkan hampir ke seluruh dunia.
“Semua benua sudah, kecuali Afrika,” aku Iqbal.
Tak heran, omzet kotornya melambung tinggi. Dia bisa meraup Rp 20 juta hingga Rp 40 juta. Itu hanya dalam hitungan minggu saja!
Tapi, mujur tak dapat diraih, malang pun tak bisa ditolak. Roda bisnis Iqbal berada di titik terendah ketika pandemi Covid-19 datang. Bisnis tanaman akuatiknya ambruk. Bahkan sampai di titik terendah.
Sebenarnya, orderan masih ada. Namun, dia tak bisa lagi mengirim ke tujuan. Demikian pula sebaliknya, barang yang dia beli dari luar negeri pun tak bisa masuk. Hanya dalam dua bulan kerugian yang dia derita mencapai ratusan juta rupiah!
“Saat itu saya sudah kena BI checking (mendapat catatan buruk dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan, Red),” terangnya sambil menyebut seluruh hutangnya baru lunas tahun kemarin, 2022.
Tapi, nasib baik masih menghampirinya. Pada 2020 hobi aquascape kembali melonjak. Pasar mulai terbuka lagi. Lebih beruntung lagi, Iqbal mendapat suntikan dana dari sang adik. Yang bisa dia jadikan modal membesarkan lagi bisnisnya.
“Tanaman akuatik kembali menjadi trending saat itu. Saya pun sangat bersyukur,” ucapnya.
Bisnisnya pun kembali lancar. Omzetnya bisa mencuat lagi, meski ‘baru’ di kisaran Rp 60 juta sampai Rp 70 juta per bulan. Tapi hal itu sudah jauh lebih baik dibanding awal pandemi yang justru membuat hutang-hutangnya tak terbayar.
Masa-masa itu bertahan hingga akhir 2021. Setelah itu ada lagi masalah. Tanaman yang paling disukai pasar ekspor, bucephalandra, menjadi langka di Kalimantan. Sulit diperoleh lagi. Akibatnya, Iqbal pun hanya bisa melayani permintaan dalam negeri.
Dan, tanpa ekspor bucephalandra, omzet bisnisnya terkoreksi. Kini, paling banter hanya mendapat Rp 30 juta per bulan. Meskipun tak sebanyak bila ekspor, hal ini tetap saja dia syukuri.
Sepak terjangnya membuat Pemkab Kediri memberi apresiasi. Pada 2021, Dinas Perikanan Kabupaten Kediri memberi penghargaan karena masuk tiga besar kategori pertanian aquascape se-Jatim. Luas lahan tanaman akuatik di rumahnya berukuran 135 x 18 meter. Tanaman-tanaman ditempatkan per petak setiap jenis. Mulai jenis cryptocoryne, anubias, echinodorus, hairgrass, dan ludwigia.
Bisnis aquascape ini merupakan bisnis pertamanya. Bagi Iqbal, pengalaman jatuh bangunnya sangat berharga. Ia bisa belajar bisnis secara autodidak dan untuk ke depannya perlu berhati-hati agar kejadian sebelumnya tidak terulang.
Editor : Anwar Bahar Basalamah