Meski berada di lereng Gunung Klotok, namun mata airnya muncul secara alami. Di ketinggian itu, air yang jernih keluar dari celah-celah batuan dan tanah. Kontras dengan permukiman yang berada di bawahnya. Yang justru kesulitan mengakses air tanah.
Sumber Panguripan memang jadi tumpuan kebutuhan air dari ratusan jiwa di Dusun Ngesong, Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan. Bahkan, mata airnya sengaja diarahkan pada bangunan beton permanen yang berfungsi sebagai tandon air. Dari sana, air disalurkan lewat pipa-pipa hingga sampai ke rumah-rumah warga.
Namun begitu, mata air yang mengarah ke tandon itu bukanlah sumber air satu-satunya. Meskipun terletak di dataran tinggi, mata air justru banyak keluar dengan sendirinya. Yakni, lewat celah batuan dan merembes dari tanah.
“Banyak ini rembesan-rembesannya. Ini nanti langsung mengarah ke sungai kecil sampai ke bawah,” ujar Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Pojok Suwoto.
Salah satunya, tak jauh dari sumber air utama. Terdapat sebuah pipa yang terpasang di antara bebatuan. Dari pipa itu, air terus memancur. Hingga mengalir lewat celah-celah batu di bawahnya.
“Ini mengalir terus nggak pernah berhenti. Cuma memang sekarang debitnya berkurang,” sambung Woto—sapaan akrabnya.
Sementara di seberangnya, mata air justru merembes dari celah bantuan tanpa bantuan pipa. Lagi-lagi, debit airnya semakin kecil. Hanya menyisakan sedikit genangan di beberapa bagian permukaan tanah.
“Ini nanti terus mengalir sampai ke sungai kecil yang ada di bawah,” tambahnya.
Selama kemarau panjang, debit air dari Sumber Panguripan dan sekitarnya memang banyak berkurang. Kondisi itu turut berdampak bagi masyarakat yang tinggal di bawah lereng Gunung Klotok. Yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidupnya pada air dari Sumber Panguripan.
“Di bawah sana masih ada tandon lagi. Di sana itu untuk menampung air dari dua sumber. Panguripan sama Jambe. Tapi sekarang pipa yang menyalurkan dari Sumber Jambe sepertinya sudah sudah nggak keluar airnya,” urainya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah