Sering diremehkan teman karena tidak bisa membeli aksesori jaranan yang baik membuat Ashef Robiansyah bertekad belajar membuat sendiri. Delapan tahun belajar, kini barongan buatannya bisa dijual hingga ke Hongkong dan Malaysia.
Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 Jumat (27/10) lalu. Ashef Robiansyah terlihat sibuk menyelesaikan pesanan barongan dari pelanggannya. Duduk lesehan beralas tikar, dia fokus mewarnai jamang barongan yang terbuat dari kulit lembu.
Pemilihan warna yang dominan hitam, dipadu dengan warna merah dan kuning, membuat barongan buatannya semakin terkesan gagah. “Saya belajar membuat barongan delapan tahun. Sedikit demi sedikit,” kata pemuda yang akrab disapa Ashef itu tentang prosesnya belajar membuat barongan.
Mengapa dia tertarik menekuni pekerjaan membuat barongan? Ashef menyebut itu tidak datang ujuk-ujuk. Melainkan karena saat kecil dia banyak diejek temannya. Penyebabnya, Ashef yang saat itu duduk di bangku kelas 5 SD tidak memiliki aksesori yang memadai saat bermain jaranan. “Teman-teman saya dibelikan baju dan aksesori jaranan yang baik. Saya tidak dibelikan karena ekonomi orang tua memang pas-pasan,” kenangnya.
Aksesori jaranan memang tidak murah. Untuk membeli kepang, baju, hingga barongan membutuhkan uang jutaan rupiah. Orang tuanya, tentu saja tidak mau merogoh kocek untuk membiayai kesenangannya itu. Melainkan memilih memakai uang untuk keperluan lain yang lebih mendesak.
“Sebenarnya juga iri melihat anak lain memakai yang bagus-bagus. Tapi bagaimana lagi,” lanjutnya. Ashef pun memutar otak. Di usia 10 tahun, pemuda yang tinggal di Desa Nyawangan, Kras itu belajar membuat barongan sendiri.
Otomatis barongan impiannya tidak bisa langsung terwujud. Dia harus menabung untuk membeli alat-alat membuat barongan. Menyisihkan uang saku sedikit demi sedikit, Ashef berhasil membuat tatah. "Perlu waktu sekitar seminggu agar bisa beli tatah. Belum beli alat yang lainnya, jadi harus nabung lagi," kenangnya lagi tentang perjuangannya untuk membuat barongan.
Setelah alat-alat terkumpul, barulah dia praktik membuat barongan. Jangan dibayangkan jika dia bisa langsung membuat satu set barongan yang bagus. Seperti tahap belajar lainnya, dia baru bisa membuat barongan yang sederhana. Bahannya juga seadanya. Untuk bagian kepala dia memakai kayu sengon. Sedangkan jamangnya menggunakan karpet talang.
Motif jamang juga tidak sebagus sekarang. Belum adanya internet membuat dia tidak memiliki banyak contoh motif. Alhasil, Ashef mencontoh gambar barongan di tempat kaset jaranan. “Bisanya mencontoh itu,” tuturnya sambil tertawa mengingat caranya belajar membuat jamang.
Melukis jamang ini merupakan bagian tersulit. Dia harus beberapa kali praktik sebelum barongan buatannya layak untuk sekadar dilihat. Meski baru bisa membuat barongan seadanya, bocah yang duduk di bangku SD kala itu sudah senang bukan kepalang.
Tebersit di benaknya untuk terus belajar agar bisa membuat kerajinan barongan. Dia juga ingin menekuni bisnis ini secara serius. Untuk bisa merealisasikan cita-citanya, Ashef semakin semangat untuk belajar.
Setiap kali senggang, selalu diisi dengan belajar membuat barongan. Di saat yang sama dia juga masih aktif bergabung dengan paguyuban jaranan. Dengan percaya dirinya dia memakai barongan buatannya. “Saya sering diejek karena memang memakai barongan jelek,” paparnya.
Diremehkan dan diejek oleh teman-temannya, tak membuat Ashef patah semangat. Sebaliknya, itu jadi pelecut semangatnya. Dia justru semakin giat berlatih membuat barongan.
Usaha kerasnya membuahkan hasil saat duduk di bangku SMP. Saat itu karyanya mulai dilirik teman-temannya. Pemasaran dari mulut ke mulut itu membuat pesanan terus berdatangan. “Saya semakin semangat belajar membuat barongan,” tuturnya.
Tiga tahun terakhir, barongan buatannya semakin dikenal luas. Yang membeli bukan hanya warga Kediri Raya. Melainkan juga dijual hingga ke Kalimantan dan Riau. Tahun ini, barongan buatannya juga dikirim ke Hongkong dan Malaysia.
Selain pemasaran manual, dia juga memasarkan lewat Facebook. Dalam seminggu, dia bisa mendapat 3-8 pesanan. Selain barongan, ada pula yang memesan kepang, celeng, dan aksesori jaranan lainnya. “Jika sedang banyak pesanan dan saya tidak bisa mengerjakan sendiri, saya ajak teman-teman untuk ikut mengerjakan.
Ketekunannya mendatangkan cuan yang tidak sedikit. Dengan modal Rp 700 ribu untuk membuat barongan, dia membandrol karyanya sebesar Rp 3 juta. “Memahat kayu di bagian kepala itu yang paling sulit,” urainya.
Meski barongan buatannya sudah diminati banyak orang dan cuan berdatangan, Ashef tetap tak melupakan tujuan utamanya. Yakni, mencintai dan melestarikan seni asli Jaw aitu. “Uri-urinen jaranan. Ojo sampek mandek nek dalan (lestarikan jaranan, jangan sampai berhenti di tengah jalan, Red),” katanya menirukan pesan sang kakek.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah