Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melihat Jerih Payah Kader Posyandu Kesehatan Jiwa di Ngasem Kabupaten Kediri

Anwar Bahar Basalamah • Selasa, 24 Oktober 2023 | 17:21 WIB

 

Photo
Photo

Mereka harus menangani puluhan pasien dengan peralatan sederhana. Kadang, harus bertaruh nyawa menghadapi ODGJ yang mengamuk. Toh, semua itu tak menyurutkan semangat mereka menjadi relawan.  

Setiap Rabu di minggu ketiga, suasana Posyandu Kesehatan Jiwa Purna Niroga selalu ramai. Tempat yang berada di Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem itu dipenuhi puluhan orang. Mereka berkumpul di halaman posyandu, berbaris rapi. Setelah itu menggerak-gerakan badan. Mengikuti gerakan senam seperti yang diperagakan oleh instruktur di depan mereka.

Mereka adalah pasien posyandu jiwa tersebut. Tentu saja, secara mental belum sehat. Masih tergolong sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Mereka ke tempat ini juga dalam rangka proses penyembuhan. Karena itu, setelah senam-yang kadang diselingi dengan permainan-mereka akan dicek kondisinya. Di ruangan dalam posyandu yang berukuran 10 x 5 meter.

“Selain dari Desa Ngasem, kami juga menangani (pasien) dari 12 desa lain yang berada di Kecamatan Ngasem,” terang Supratman.

Supratman adalah ketua kader Posyandu Kesehatan Jiwa Niroga. Selain dirinya ada empat relawan lagi yang menjadi kader. Para kader ini bertugas sejak dibentuk 2019 silam.

Tugas para kader ini tak ringan. Lebih sulit lagi, karena peralatan yang mereka miliki juga tak memadai. Bahkan, dari sisi jumlah juga tidak ideal. Karena itu mereka harus dibantu oleh bidan desa, anggota perlindungan masyarakat (linmas) hingga anggota TNI atau Polri yang jadi bintara pembina desa (babinsa) atau bhayangkara pembina kamtibmas (bhabinkantibmas).

Sebelum bertugas, Supratman dan kader lain-Slamet Junaidi, Robiatul Anawiyah, Endang Setyowati, dan Luluk Handayani-dibekali pelatihan. Tentang cara menangani para ODGJ. Terutama yang sedang ada dalam fase amuk.

Fase amuk memang saat yang berbahaya. Selain butuh keterampilan khusus juga peralatan yang memadai. Padahal, selama ini peralatan yang dimiliki posyandu terbatas. Lebih tepat disebut seadanya. Karena itulah mereka butuh bantuan anggota TNI dan Polri bila menemukan ODGJ yang masuk fase amuk.

Supratman kemudian bercerita. Ketika mereka menghadapi seorang pasien yang mengamuk. Meskipun mendapat bantuan aparat tapi mereka tak boleh  menggunakan borgol.

“Jika sesuai dengan pelatihan dari dinas kesehatan, (pasien) tidak boleh diborgol,” terang Supratman.

Karena alat yang terbatas, mereka harus mengerahkan lima orang. Namun, meskipun ODGJ itu bertubuh kecil tapi tenaganya luar biasa. Dalam kondisi amuk, tenaganya seperti berlipat-lipat.

Pengalaman lain, ada ODGJ mengamuk tengah malam. Para kader pun harus mendatangi lokasi. Dan baru pulang saat subuh. Menunggu pasien kembali tenang.

“Pernah ada pasien hendak dibawa tapi kabur tidak menggunakan pakaian,” kenang Slamet, yang menyebut pasien itu naik ke atap rumah dalam keadaan telanjang.

Laki-laki 43 itu mengatakan, menjadi kader kesehatan jiwa banyak suka dukanya. Kadang, satu kejadian menegangkan bisa berubah lucu, seperti  komedi. Seperti ketika mereka ikut jambore memeringati Hari Kesehatan Jiwa Internasional di Kandat. Mereka mengikuti beberapa lomba seperti azan dan puisi. Hasilnya, kalah semua.

Lucunya, ODGJ yang ikut lomba azan memarahi yang ikut puisi. Ketegangan pun terjadi, dan keduanya nyaris berkelahi. Untungnya segera bisa dipisah oleh para kader,

Bagi para kader, semua kesulitan itu tidak seberapa. “Dicemooh atau dibuat guyonan sudah biasa,” kata Slamet.

Namun karena sudah menjadi niatan, hal tersebut bukan menjadi masalah. Bahkan meskipun dengan upah yang tidak seberapa mereka tetap menjalankan tugasnya dengan gembira. Karena niatan mereka lebih besar untuk pengabdian kepada masyarakat.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#posyandu #odgj #kesehatan #kader