KEDIRI, JP Radar Kediri– Pemkot Kediri kembali melakukan normalisasi. Namun, kali ini bukan sungai. Melainkan sumber mata air. Tidak hanya satu titik. Sedikitnya ada tiga titik sumber mata air yang tengah dikeruk dengan alat berat. Yaitu Sumber Jasem, Dendeng, dan Jiput.
Berdasarkan data, normalisasi tersebut dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kediri. Tujuannya untuk mengantisipasi dampak kemarau. Sekaligus mengembalikan fungsi sumber. Sehingga, sumber-sumber tersebut tidak sampai mengering.
“Karena keterbatasan alat berat, kami masih rencanakan di tiga lokasi dulu. Pelaksanaannya bergantian menunggu giliran,” kata Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Kota Kediri Meri Oktavia.
Ke depannya, Meri menegaskan bahwa nromalisasi akan terus berlanjut. Tidak berhenti pada tiga titik ini saja. “Setelah satu lokasi selesai, baru dilanjutkan ke lokasi berikutnya,” tuturnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, tim lebih dulu melakukan normalisasi di Sumber Jasem, Pesantren. Di sana, satu unit eskavator dikerahkan untuk mengeruk sedimen. Termasuk sampah ranting dan pohon yang menghambat aliran air. Selain itu, dilakukan pembersihan pula di kawasan sekitar mata air.
“Dengan dinormalisasi, harapannya debit air di sumber bisa terus terjaga. Sehingga dapat digunakan untuk pemenuhan air irigasi,” urainya.
Adapun saat ini, pengerjaan normalisasi tengah berlangsung di Sumber Dendeng, Pesantren. Rimbunan bambu yang sebelumnya menutupi hampir seluruh permukaan sumber dibersihkan dengan alat berat. Selain itu, kawasan mata air juga dikeruk untuk meningkatkan debitnya.
Selain membersihkan kawasan mata air, dinas PUPR juga akan membangun bronjong di sumber air tersebut. Material-material seperti batu juga sudah didatangkan di sumber air yang terletak di Kelurahan Ngletih, Pesantren itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah