Bila ingin berwisata alam di Kota Kediri, Gunung Klotok tempatnya. Bila ingin belajar sejarah, Gunung Klotok pula tempatnya. Bila malam hari, pemandangan ke arah kota juga terpampang indah.
Lokasinya tak jauh dari pusat kota. Hanya berjarak enam kilometer dari titik nol Kota Kediri. Menuju ke arah barat. Melintasi Sungai Brantas yang membelah kota yang pernah dinobatkan sebagai kota paling bahagia ini.
Bila akhir pekan, kawasan Gunung Klotok ini ramai pengunjung. Cocok untuk menghabiskan waktu dengan nuansa pegunungan tetapi tak jauh dari perkotaan. “Tempat wisata ini memang ramai di akhir pekan atau saat liburan panjang,” terang Andi Rahardi, juru pelihara (jupel) Museum Airlangga.
Ya, di Gunung Klotok memang tak sekadar menawarkan wisata alam. Kawasan ini juga kental dengan sejarah. Tepatnya berada di area yang bernama Gua Selomangleng. Di tempat ini ada gua yang berada di kaki Gunung Klotok serta museum tempat menyimpan benda-benda purbakala.
Yang pertama adalah Gua Selomangleng. Keunikan gua ini adalah banyaknya bongkahan batu yang seolah berserakan. Sebagian seperti dipahat. Lengkap dengan relief yang menghiasi.
Untuk mencapai gua eksotis ini, pengunjung harus mengerahkan sedikit tenaga. Memanjat tebing terlebih dulu. Namun, ongkos lelah itu akan terbayar setelah berada di dalam gua.
Bila dilihat dari luar seperti hanya lubang biasa. Ketika masuk, ada banyak ruangan yang diwarnai dengan diaroma di dinding gua yang terbentuk dari batu andesit hitam.
Ada empat ruang di dalam Gua Selomangleng ini. Pertama, di bagian utara. Pintu masuk bagian ini berhias ragam kepala kala berahang bawah. Di kanan kirinya ada sepasang medalion bermotif flora. Ada pula padmasa (lapik arca dewa bermotif bunga teratai) dan dua sandaran arca (stella) yang ada di dinding sisi utara.
Menariknya, ruangan ini dilengkapi dengan relung kecil sebagai tempat penerangan. Ruang lampu penerangan itu disangga oleh dua tangan makhluk mitologi. Dua tangan itulah yang dulu digunakan menaruh lampu minyak.
Masuk ke ruangan kedua, ada relief tokoh Garudeya. Tengah bertarung dengan naga. Di dekatnya, sisi barat, ada bangunan persegi yang menyerupai bale atau tempat duduk. Di atas bale itu ada pahatan aksara Jawa Kuno Kwadrat.
Sementara, di ruang tiga, ada pahatan landscape Gunung Klotok. Ada diaroma yang bercerita penguburan terbuka kesatria. Ada gambaran jasad yang kulitnya mengelupas hingga terlihat tulang rusuk. Tengkorak itu mengenakan baju kebesaran.
Relief lainya, gambaran area perairan. Binatang yang menyerupai ular berenang. Dua kepala mirip buaya, air terjun, aktivitas orang seperti meramu bahan makanan dan berburu binatang. Komplek bangunan berpanggung dan dua orang sedang berbincang. Terdapat relif seorang tokoh petapa dalam posisi bersila di padmasa. Mengenakan jubah dan tanpa mahkota dan berambut keriting. Pertapa itu adalah Dhyani Budha Amitabha dengan sikap tangan Dhayana Mudra.
Ruang empat, paling selatan. Dilengkapi dengan tangga dan pipi tangga (balustrade) kerena posisi lantai raungan dibuat tinggi. Hanya ada satu relif Dhyani Buddha Wairocan dengan sikap tangan Dharmacakra Mudra yang dipahatkan di diding sisi selatan. Wairocana adalah Buddha Dharmakaya dan Buddha Matahari
Dalam catatan sejarah, Gua Selomangleng mulai digunakan awak Kerajaan Kadiri/Daha/Panjalu pada abad XI M. Kemudian berlangjut era Singhasari abad XIII M, dan Majapahit abad XV M. Fungsinya sebagai gua pertapaan.
“Nama Selomangleng dari kata selo yang berarti batu dan mangleng ini sendiri berarti miring. Jadi Selomangleng berarti batu yang kedudukannya miring jika dilihat dari permukaan tanah,” jelas Andi.
Harus Lewati Ribuan Anak Tangga
Selain Gua Selomangleng, destinasi di area Gunung Klotok adalah Gunung Maskumambang. Meskipun namanya gunung tapi sebenarnya adalah salah satu bukit yang masuk kawasan Pegunungan Wilis.
Jarak gua dengan Gunung Maskumambang tak jauh. Tak sampai 500 meter. Namun untuk ke puncaknya perlu melewati ribuan anak tangga. Menariknya, anak tangga itu tak selalu menanjak. Ada beberapa bagian yang menurun.
“Sebagian pengunjung yang naik itu mengunjungi makam Mbah Boncolono,” terang Supriadi, pemilik warung di lokasi wisata.
Boncolono sendiri konon adalah sosok sakti di era kolonial Belanda. Yang menjadi pencuri dan perampok demi membaginya kepada warga miskin. Sebagian masyarakat menyebut legenda ini dengan kisah Maling Gentiri.
Tapi, tidak semua wisatawan berniat mendatangi situs makam yang punya cerita mitos itu. Sebagian besar adalah karena ingin melihat view Kota Kediri dari ketinggian. Karena dari puncak Maskumambang, lanskap Kota Kediri akan tersaji indah.
Jika kemarau seperti saat ini, kondisi Gunung Maskumambang memang terkesan gersang. Pohon-pohonnya meranggas. Kian menambah kesan eksotis karena diselinggi bunga-bunga berwarna cerah di sela-sela dahan.
Sementara bila musim penghujan, pohon-pohon yang sebelumnya meranggas itu akan kembali menyemi. Memunculkan daun-daun baru yang membuat suasana teduh menghijau.
Namun, tetap saja yang dituju adalah ketika sampai puncak. Tenaga yang dikeluarkan bakal tergantikan dengan termanjakannya mata melihat lanskap area di bagian bawah. Kota Kediri akan terlihat indah lengkap dengan bangunan-bangunan monumentalnya. Seperti Jembatan Brawijaya atau Masjid Agung.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah