Mendongeng kepada anak balita punya banyak manfaat. Melatih mereka menyukai literasi. Dan, yang tak kalah penting, membuat anak tidak kecanduan gadget.
Si Upik sudah berusia lima tahun. Di usia itu, dia sudah sangat familiar dengan gawai. Mampu menggunakan dengan baik. Baik untuk main game maupun melihat tontonan. Sebab, sang Bunda, telah mengenalkan peralatan itu sejak usia satu tahun!
Tapi, ada satu hal yang tak diduga oleh sang Bunda. Si Upik ternyata tak pandai berbicara. Alias mengalami perkembangan yang lambat dalam bertutur kata. Terlalu sering menggunakan gawai membuat Si Upik jarang bersosialisasi. Jarang pula bercengkerama dengan sebaya. Yang membuat sang bocah sulit untuk mengucapkan kata.
Tentu saja hal itu sesuatu yang memiriskan. Dan, ironisnya lagi, masih banyak Si Upik-Si Upik lain. Yang terpapar pengaruh buruk kecanduan gawai.
Nah, agar hal seperti itu tak terjadi, ada baiknya para orang tua tak melakukan seperti yang dicontohkan di atas. Terlalu dini memberi fasilitas gawai pada anak-anaknya. Lebih bijaksana bila orang tua mau meluangkan waktu berinteraksi dengan si anak. Salah satunya dengan mendongeng.
Ya, gerakan mendongeng ini perlu dihidupkan lagi. Terutama di kalangan keluarga-keluarga muda dengan anak yang masih balita.
"Anak-anak yang menyukai literasi melalui buku perkembangannya akan berbeda dengan anak yang hanya diberikan handphone," terang Tatik Imadatus Sa'adah, seorang psikolog klinis.
Kenapa mendongeng? Ada beberapa hal yang membuat mendongeng sangat bagus untuk tumbuh kembang balita. Yang pertama, mengenalkan anak sejak dini dengan literasi. Melatih mereka untuk memvisualisasi dan berimajinasi.
Dalam ilmu psikologi, visualisasi saat mendongeng ini dapat merangsang otak anak. Pada saat mendengarkan, cara berpikir abstrak anak akan lebih cepat terbentuk.
Selain mengembangkan kemampuan visual sang anak, mendongeng juga menjalin komunikasi antar keduanya. Proses interaksi ini akan lebih menyenangkan dengan mendongeng. Emosi berjalan karena ada sentuhan, kontak mata, senyuman, dan suara. Orang tua pun dapat memeluk tubuh anaknya
"Sebetulnya sejak kecil hal yang paling menyenangkan adalah berinteraksi dengan orang tuanya. Selain mencerdaskan anak juga membuat bahagia," imbuh perempuan lulusan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga ini.
Kelebihan lain adalah anak akan banyak perbendaharaan kosakata. Saat mendengar dongeng, mereka terpapar berbagai kata baru dan istilah yang belum didengar sebelumnya.
Lalu, cerita seperti apa yang pas untuk anak-anak usia itu? "Ceritanya yang ringan. Lebih bagus buku yang ada gambar," jelas Tatik.
Ringkasnya, dengan mendongeng orang tua bisa mengajarkan edukasi moral dengan cara yang menyenangkan. Misalnya melalui dongeng kancil mencuri timun. Yang akan memberi pengertian pada anak mengapa mencuri tersebut sebagai tindakan yang tercela.
Pertajam dengan Visualisasi
Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, banyak orang tua lebih mempercayakan anak dengan gadget. Hal tersebut membuat budaya mendongeng pada anak menjadi terkikis. Padahal mendongeng memiliki banyak manfaat.
"Selain membuat anak tertarik untuk membaca, dengan dongeng bisa menciptakan kedekatan emosional antara orang tua dan anak," terang Tatik Imadatus Sa'adah.
Masalahnya, tidak semua orang tua ahli mendongeng. Namun, hal itu tetap saja bisa dilakukan. Orang tua tak perlu expert dalam bercerita. Mereka dapat melakukan dari hal yang paling sederhana. Salah satunya dengan menceritakan tentang kehidupan sehari-hari. Jika kesulitan dapat membaca dari buku dongeng.
"Orang tua bisa membacakan buku dongeng yang disesuaikan dengan usia anak," imbuhnya.
Masih ujar Tatik, agar anak tertarik dengan dongeng yang dibacakan, orang tua dapat memberikan cerita menarik. Yaitu dengan menggunakan alat bantu. Bisa seperti boneka atau jari. Hal itu memudahkan anak mengerti dan juga memperkuat daya ingat anak.
Selain itu disarankan saat sedang mendongeng orang tua harus mampu mengimajinasikan sesuai cerita yang dibawakan. Dengan teknik imajinasi, mereka dapat membawa dunia dongeng sampai ke anak.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah