Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sendang Gayam di Kecamatan Mojoroto Kota Kediri Dulu Tempat Wudu, Kini Nyaris Terlupakan

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 7 Agustus 2023 | 19:06 WIB
BERALIH FUNGSI: Warga setempat berjalan menuju masjid. Dulu, Sendang Gayam dipakai jemaah masjid untuk berwudu.
BERALIH FUNGSI: Warga setempat berjalan menuju masjid. Dulu, Sendang Gayam dipakai jemaah masjid untuk berwudu.

 

Dulu, mata air ini punya peran khusus. Menjadi tempat berwudu warga yang hendak salat di masjid. Kini, tak banyak aktivitas warga di sumber yang bernama Sendang Gayam ini.

Tak seperti mata air lainnya yang disebut dengan sumber, mata air di Kelurahan Gayam, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini lebih dikenal sebagai sendang. Namanya Sendang Gayam. Letaknya di tengah permukiman. Tepatnya di Jalan Raya Gayam nomor 14.

Karena di tengah permukiman cukup mudah mencapai mata air ini. Tepat di depan Masjid Jami Baitul Muttaqiin. Atau di sisi utara Jalan Raya Gayam.

Mata air ini mirip kolam-kolam yang biasa ditemui di pekarangan rumah. Sudah dikelilingi bangunan pengaman. Lengkap dengan tangga semen untuk turun ke air. Karena lokasinya di tengah permukiman, tak banyak pohon besar di sekelilingnya.

“Meskipun cuma segini, tapi ini ngalir terus. Alirannya ke sawah. Cuma kadang kalau kemarau panjang bisa mengering,” terang Nurhasyim, warga sekitar.

Tapi, mengeringnya mata iar ini sudah lama. Terjadi lebih dari sepuluh tahun lalu. Sejak saat itu belum terjadi lagi yang seperti itu.

Sekilas mata air ini terlihat hanya seperti genangan. Namun, di salah satu sudut kolamnya terdapat sebuah saluran. Saluran itu yang langsung menuju ke parit. Melalui parit itulah air mengalir ke area persawahan Gayam, yang tak jauh dari sendang.

Namun begitu, saat ini, menurut Nurhasyim sudah tak banyak orang yang bergantung pada air dari Sendang Gayam. “Kalau untuk pengairan sawah, ini sekedar bantuan saja. Karena yang utama dari Sumber Ngembak. Sana yang paling besar airnya,” terangnya.

Itu tak terlepas dari debit air Sendang Gayam yang tak begitu besar. Salah satunya, menurut Nurhasyim, karena sudah jarang dirawat. Berbeda dengan zaman dulu saat mata air ini rutin dirumat. Khususnya oleh petani yang memanfaatkan air sendang untuk pengairan sawah.

“Dulu ini dipakai wudu. Sekarang ya nggak ada. Sudah punya pompa air semua. Paling anak-anak kecil  yang biasanya masih sering mandi sambil nyari ikan,” ujar pria ini.

Di sendang ini memang terdapat ikan-ikan kecil. Terlihat ada jenis sepat dan wader. Terkadang juga jadi spot memancing bagi warga setempat. Atau anak-anak kecil yang berramai-ramai mencari ikan dengan jaring kecil.

Saat hari besar seperti peringatan 17 Agustus, warga setempat memanfaatkan Sendang Gayam sebagai arena lomba. Puluhan ikan lele disebar untuk ditangkap bersama-sama. Lomba tangkap lele di Sendang Gayam itu jadi salah satu keunikan warga RT 01 RW 02 itu dalam memperingati hari besar. Sebuah tradisi yang sempat hilang pascapandemi Covid-19.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#SUMBER #Sendang Gayam #mata air #tempat wudu