Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Banyak Jalan Menuju Sumber Ngasinan Rejomulyo Kota Kediri, tapi...

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 7 Agustus 2023 | 16:34 WIB
ADU NYALI: Warga Ngasinan melintas di tepian plengsengan sungai yang hanya selebar satu tapak kaki. Jalur itu merupakan akses menuju Sumber Ngasinan.
ADU NYALI: Warga Ngasinan melintas di tepian plengsengan sungai yang hanya selebar satu tapak kaki. Jalur itu merupakan akses menuju Sumber Ngasinan.

 

Bila bertanya ke warga, tak banyak yang tahu arah ke Sumber Ngasinan. Lebih parah lagi, sedikit yang mengerti ada ‘oase’ di antara perkampungan padat. Jernihnya mata air ini ternyata tertutup oleh sumber besar yang lokasinya juga berdekatan.

Namanya Sumber Ngasinan. Sesuai namanya, letaknya di Lingkungan Ngasinan, Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kota. Masih satu kelurahan dengan Sumber Jiput yang lebih terkenal karena jadi tempat wisata.

Sebenarnya mata air ini ibarat oase di tengah padatnya permukiman perkotaan. Bahkan, nyaris mendekati makna harfiah, bukan kiasan. Sebab, pusat mata air ini berada di permukiman padaat.

Di sisi selatan ada Perum Rejomulyo Estate2. Sedangkan di utaranya berdiri Perumahan RS Baptis. Di bagian barat langsung  bertemu dengan pondok pesantren yang ada di kelurahan ini. Dan di timur, ada pabrik besar yang menjadi ‘tembok’-nya.

Untuk mencapainya? Tak ada akses utama. Tapi, ada beberapa jalan kecil yang bisa dilewati menuju sumber ini. Hanya, akses ini harus melewati lahan privat milik warga. Itupun jalannya tak lebar. Berupa jalan setapak.

Bila tak ingin melintas tanah milik warga, bisa melewati jalan setapak antara tembok pabrik dan lahan tebu. Tentu saja jalannya tak lebar dan harus  berhati-hati.

Jalur lain, ya menyusuri aliran sumber yang disebut sebagai Kali Ngasinan ini. Juga, harus hati-hati melaluinya.

Setelah bisa melewati tembok tinggi batas perumahan, serta tembok pabrik, yang dijumpai adalah area yang diisi pepohonan besar dan rimbunnya semak belukar. Terlihat sekali tak pernah tersentuh perawatan. Mungkin, sudah berbulan-bulan, atau bahkan tahunan, tak terjamah tangan. Batang ukuran besar, sisa pohon yang tumbang, juga dibiarkan begitu saja. Mirip sekali dengan hutan belanatara.

Semakin masuk ke ‘hutan’, suara gemericik air mulai terdengar. Mata air yang disebut Sumber Ngasinan itu terletak jauh di bawah. Belum diberi bangunan pelindung. Pun dengan akses turun menuju mata air, juga belum ada. Hanya ada dam yang juga menghubungkan kedua tepi plengsengan yang baru dibangun di aliran bawah mata air.

“Saya sudah lama nggak ke situ. Tapi sepertinya sekarang kalau mau ke mata air lewatnya sini (aliran air atau sungai). Jadi menyusuri kali begitu. Kalau lewat atas takutnya ada ular,” ujar Al Hidayatus Zahroin, warga setempat, yang mengantar JP Radar Kediri mendatangi lokasi sumber.

Mbak Al, panggilan akrabnya, mengakui memang sudah tak banyak orang yang pergi ke sumber. Rimbunan semak, pohon besar, hingga tanaman-tanaman merambat ditakuti menjadi sarang ular. Sehingga, warga yang ingin menuju ke pusat mata air lebih memilih jalur susur sungai. Apalagi air sungainya hanya setinggi lutut, yang terus mengalir meski kemarau ekstrem sekalipun.

“Paling kadang kalau sore nggak ngapa-ngapain, anak saya ngajak bapaknya ke sumber sambil bawa arit. Pulang-pulang bisa bawa ontong (bunga pohon pisang, Red) atau rebung,” tutur Al sembari tertawa.

Meski tak terawat, kawasan mata air itu terbilang masih sangat alami. Sehingga menyimpan banyak potensi bahan pangan yang bisa dimanfaatkan oleh warga setempat.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#SUMBER #mata air #jalan