Sumber Mangun kini tak lagi terawat. Aksesnya jadi sulit, pun dengan jalan kaki. Membuat sumber ini kini sepi dari aktivitas warga.
Warga menyebut rerimbunan rumpun bambu itu dengan sebutan barongan. Nah, bila ingin mencapai sumber ini, kita harus melewati barongan tersebut. Lebat, dan berduri di sana-sini.
Itupun, sebelumnya, terlebih dulu kita harus berjalan kaki. Melintasi lahan tebu sejauh sekitar 30 meter. Hal inilah yang membuat warga di sekitar sumber ini jadi malas mendatangi.
“Dulu masih sering dipakai warga untuk mandi dan nyuci,” terang Salim, warga Kelurahan Bawang, Kecamatan Pesantren, yang tinggal di sekitar sumber.
Ya, Sumber Ngembak-demikian mata air ini punya nama-dulunya jadi tempat warga sekitar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terutama untuk mandi dan mencuci. Juga arena bermain anak-anak.
Tapi itu dulu. Kebiasaan warga ‘turun’ ke sumber itu kali terakhir Salim temui puluhan tahun lalu. Ia bahkan tak bisa mengingat kapan kali terakhir warga beraktivitas di sumber. Kini tak ada lagi aktivitas seperti itu. Terutama anak-anak, tak ada lagi yang ciblon, bermain dengan menepuk air agar mengeluarkan bunyi.
“Paling waktu saya masih remaja,” kenangnya sembari mengira-ngira itu terjadi sekitar 25 tahun yang lalu.
Kini, hampir tak ada orang yang masih mengunjungi Sumber Mangun. Kalaupun nekat, harus turun beberapa meter. Melewati rimbunan semak belukar dan barongan.
“Sekarang nggak ada yang merawat. Orang-orang juga nggak berani ke sini karena tempatnya singlu (sepi dan terpencil, Red),” ujar laki-laki 40 tahun itu.
Di Sumber Mangun sedikitnya ada dua titik mata air utama. Memang, semburan airnya tak begitu deras. Namun begitu debit airnya terlihat tinggi ketika sampai di hilir.
“Kalau kemarau seperti sekarang memang alirannya lebih kecil. Tapi setahu saya selama tinggal di sini, kok sepertinya mengalir terus,” akunya yang memang sedari kecil tinggal tak jauh dari lokasi mata air.
Selama bertahun-tahun, air dari Sumber Mangun telah banyak membantu kehidupan di sepanjang hilir sungainya. Penduduk di aliran lebih rendah banyak memanfaatkan air dari Sumber Mangun untuk pengairan sawah.
“Alirannya termasuk ke Dusun Centong. Di sana bisa untuk pertanian. Tapi kalau di sini nggak bisa karena (posisi sumber) airnya lebih rendah,” tandasnya.
Warga asli sekitar yang sudah tak lagi bergantung pada Sumber Mangun , baik untuk pertanian ataupun kebutuhan sehari-hari. Hal itulah yang menurut Salim membuat mereka tak lagi rutin merawat. Rumah tangga di sekitar sumber sudah banyak yang memiliki sumur bor sendiri. Pun dengan pertanian yang lebih mengandalkan air dari sungai di atasnya.
“Kalau mau dibersihkan sekarang (secara swadaya oleh warga, Red) kok sepertinya sulit, Mbak,” ujar Salim tertawa sembari menatap rimbunan semak dan barongan bambu yang menutup hampir setengah permukaan mata air dan alirannya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah