Ketika cuaca panas, paling nyaman memang berada di tempat sejuk. Suasana itu bisa didapatkan saat mengunjungi wisata Tirto Tani Djojo. Selain angin sepoi-sepoi dari pohon rindang, pengunjung dapat bermain air dengan river tubing atau berenang.
Tempat wisata bertemakan alam ini tidak jauh dari monumen Simpang Lima Gumul (SLG), Ngasem. Jaraknya sekitar 11 kilometer menggunakan sepeda motor. Kalau naik mobil hanya sekitar 18 hingga 19 menit. Nama lokasinya wisata Tirto Tani Djojo di Desa Tirulor, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.
“Tempat wisata ini dikelola oleh karang taruna bekerja sama dengan BUMDdes,” terang Mohammad Abdul Rozaq, Manajer Unit Wisata Tirto Tani Djojo.
Dia menjelaskan bahwa di tempat wisata tersebut memiliki banyak fasilitas. Mulai river tubing, mandi sungai, paket outbond, camping ground, view spot, hingga warung wisata. “Semua bisa dinikmati saat hari libur,” ujar Abdul.
Dari semua fasilitas itu, menurutnya, yang paling menarik bagi pengunjung adalah river tubing. Itu fasilitas mengambang di sungai menggunakan ban. Meski ada beberapa fasilitas serupa di daerah lain, namun river tubing di sana memiliki adrenalin yang berbeda.
“Menurut pengunjung, ada keseruan tersendiri saat river tubing di sini,” ungkap Abdul. Sebab, river tubing dilakukan di sungai yang alirannya juga digunakan mengairi persawahan. Meski tidak begitu lebar, namun aliran airnya sangat lancar dan jernih.
Saat melakukan river tubing, pengunjung difasilitasi pelengkap berupa ban. Agar nyaman selama mengapung, bagian tengah ban ini diberi kain dudukan. Sehingga pengunjung tidak hanya duduk di lubang ban.
Dilengkapi pelampung, pengunjung menyusuri sungai sepanjang sekitar satu kilometer. Sepanjang itu terdapat tiga pos, masing-masing aliran airnya berbeda-beda. “Aliran pertama airnya ini masih tenang, sehingga orang saat menuju pas pertama bisa tenang dan santai,” ungkap Abdul.
Baru saat menuju pos kedua, aliran sungai yang mulai deras ini bisa memacu adrenalin. Saat melewati lokasi tersebut pasti membuat orang berteriak, dan yang di pos terakhir pengunjung akan dijatuhkan. Meski dijatuhkan namun bawaannya seru.
Abdul menambahkan, river tubing ini biasanya ada saat hari Minggu saja. Di luar itu dapat melakukan reservasi. Bagi yang tidak hobi bermain air, tidak perlu khawatir bosan. Di sisi sungai terdapat taman hijau yang mirip dengan labirin. Di taman ini anak-anak bisa bebas beraktivitas, mengikuti setiap belokan yang ada. Selain teduh, taman ini juga memiliki view pinggir sungai yang indah.
Masih Angker dan Seram sebelum Dikembangkan
Sebelum diubah menjadi tempat wisata, aliran sungai di Desa Tirulor, Kecamatan Gurah memiliki kesan angker. Berada di desa paling ujung, sekitar aliran sungai ditumbuhi pepohonan yang rimbun. Hal itu membuat orang enggan ke sana. “Lokasinya ini perbatasan Dusun Ringinrejo dengan Desa Sidoarjo, sehingga orang takut ke sana karena rimbun. Kesannya angker dan sintrum,” terang Mohammad Abdul Rozaq, Manajer Unit Wisata Tirto Tani Djojo.
Kepada Jawa Pos Radar Kediri, Abdul menceritakan, bersama teman-teman karang taruna Dusun Ringinrejo, Desa Tirulor kemudian memiliki ide memanfaatkan aliran sungai sebagai tempat wisata. Ide tersebut bermula karena mereka sering mengadakan kegiatan.
Selain itu, pada 2019 mereka memiliki sesuatu yang dapat dikembangkan dan berkelanjutan. “Pada saat itu sedang heboh-hebohnya wisata desa,” imbuhnya. Setelah survei di beberapa lokasi, akhirnya mereka memutuskan mengembangkan aliran sungai tersebut.
Saat awal mengubah tempat yang sintrum menjadi wisata, mereka mengerjakan bermodalkan tenaga anak-anak muda di sana. Selain membantu dengan menggunakan tenaga, ada juga yang menyumbang barang-barang bekas yang bisa digunakan di tempat wisata. Sehingga modal awal pada satu itu nol rupiah.
Setelah dilakukan pembangunan, soft opening dilakukan pada 2020. Sayangnya, baru berjalan tiga bulan, tempat wisata tersebut terpaksa tutup karena ada pandemi Covid-19. Meski ditutup mereka tetap melakukan perawatan.
Sempat buka sebentar, wisata ini mendapatkan pemasukan dari persewaan ban untuk river tubing. Pemasukan tersebut kemudian digunakan untuk membeli ban. Sebab sebelumnya ban yang digunakan menyewa terlebih dahulu. “Dari pemasukan ini selain dibelikan ban, juga kebutuhan lainnya,” kata Abdul.
Begitu kembali dibuka, untuk menarik pengunjung diadakan kegiatan. Salah satunya lomba memancing. Walau hanya berupa ikan lele namun masyarakat banyak yang tertarik. Abdul menambahkan, untuk ke depannya masih ada pengembangan fasilitas. Yakni akan dibangun musala dan kamar mandi. Sebab untuk saat ini fasilitas yang ada berupa toilet, tempat duduk untuk makan, dan tempat parkir.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah