Belum puas dengan bisnis buket, Widiya Dwi Lestari mengembangkan bakatnya dengan ikut pelatihan tata rias. Dia menekuninya begitu lulus SMA. Pesanan pun mengalir. Merias pengantin atau acara lamaran serta wisuda. Usaha itu pun mampu membuka lapangan kerja.
Bermula dari hobi merias temannya sejak kecil, Widiya Dwi Lestari menjadikan teman bermain untuk uji coba make up. Dari situ dia akhirnya membuka lapangan kerja bagi teman-temannya.
Ide bisnis tercetus dari perempuan alumnus SMAN 1 Grogol itu. Kala itu, pembelajaran di sekolah dijalani dengan online karena penyebaran virus korona. Widiya Dwi Lestari masih kelas 10. Pembatasan aktivitas di sekolah membuatnya banyak menganggur. Pembelajaran harus dilakukan dari rumah.
Baca Juga: Ini Jumlah Total Pelunasan untuk 35 Bidang Tanah Terdampak Tol Kediri-Tulungagung di Tiron
Tak ada interaksi dengan teman-teman, membuat Widi kesepian. Itu pula yang mendorongnya mencari kesibukan dengan membuat usaha buket. “Awalnya karena nganggur. Terus sama satu teman inisiatif coba usaha buket,” aku perempuan yang tinggal di Ringinrejo, Desa/Kecamatan Grogol itu.
Namun rintisan bisnis itu tak berjalan mulus. Penyebabnya, masih ada pembatasan kegiatan masyarakat dari pemerintah karena pandemi. Sehingga tak banyak orang yang mengenal dan membutuhkan buket.
Baru sekitar enam bulan kemudian, bisnis Widi mulai dilirik orang.
“Nggak ada 6 bulan ramai, sampai keteteran,” ungkap alumni SMPN 1 Grogol itu. Hingga sekarang pun setiap hari ada pesanan. Minimal dua per hari.
Baca Juga: Via Ciptalia, Berawal dari Gagal Jadi Atlet Voli kemudian Beralih ke Sepak Takraw
Belum puas dengan bisnis ini, Widi mencoba mengembangkan skill dan bakatnya untuk melebarkan usaha. Selain itu, juga tebersit membuat lapangan kerja, setidaknya bagi teman-temannya.
Lulus SMA pada 2022 Widi langsung mengikuti sekolah pelatihan kerja. Dia memilih pelatihan tata rias. Itu sesuai hobi merias semasa kecil. Saat masih sekolah dasar (SD), Widi senang bermain rias-riasan. Dia jadikan teman bermain untuk bahan uji coba kemampuannya. “Dulu pas kecil sudah dibeliin eye shadow, karena suka main rias-riasan,” akunya lantas tertawa.
Walau hobi dan punya kemampuan dasar merias, namun menguasai teknik make up tidak semudah itu. Widi bahkan sempat frustasi karena tidak bisa merias di bagian alis. “Kalau bikin alis melenceng terus. Nggak sama kanan kiri,” akunya.
Baca Juga: Ora Omes Bojone Males
Namun tekad kuatnya untuk meningkatkan skill, Widi terus berusaha. Apalagi ia juga berharap untuk membuka lapangan kerja. Pada akhirnya dia bisa menguasai dan lulus. Selanjutnya, Widi langsung coba membuka pelayanan make up. Kebetulan kala itu ada acara foto album tahunan di SMAN 1 Grogol.
Widi pun kebanjiran pesanan. “Langsung ada 20 orang. Dari situ langsung cari temen untuk membantu. Saya ajak 3 temen,” ungkapnya.
Awal yang mulus itu membuat Widi makin bersemangat. Usahanya kian berkembang. Yang meminati dari berbagai umur. Ada yang untuk wisuda. Ada pula riasan untuk lamaran.
Dari bisnis itu, harapan Widi membantu orang lain dengan membuka lapangan pekerjaan terwujud. Semakin banyak yang meminta jasa rias, makin sering pula dia ajak orang untuk bekerja sama merias. “Niatnya semakin besar terus, juga biar bisa semakin banyak lapangan kerja dan teman serta orang yang diajak bekerja sama,” pungkasnya dengan senyum mengembang.