Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Banyaknya Kekerasan Anak di Bawah Umur, Ini Penjelasan Psikolog

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 19 Juni 2023 | 17:09 WIB
(Ilustrasi: Afrizal/JPRK)
(Ilustrasi: Afrizal/JPRK)
Di bagian otak ini terdapat yang mengatur agresifitas seseorang,” terang Psikolog Tatik Imadatus Sa’dati. Jika dilihat, otak yang mengatur agresifitas milik laki-laki ini jauh lebih besar dibandingkan perempuan.

Nama bagian yang mengatur tersebut adalah hipotalamus. Salah satu fungsinya adalah mengelola agresifitas, atau dorongan untuk melakukan sebuah kekerasan dalam kondisi terdesak atau tidak terdesak.

Imadatus menjelaskan bahwa kekerasan remaja yang esktrem ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Hal tersebut bisa disebabkan beberapa faktor. Faktor internal berasal dari keluarga, salah satunya adalah pola asuh.

Pola asuh keluarga ini sangat berpengaruh pada tumbuh kembang seseorang. Pola asuh orang tua ini mengandung kekerasan, baik secara verbal ataupun fisik. Di mana saat kecil seseorang tersebut tinggal di lingkungan yang menerapkan kekerasan.

“Sedangkan faktor eksternal disebabkan tempatnya bergaul, hingga gadget,” imbuhnya. Kekerasan yang berujung fatal, seperti hilangnya nyawa seseorang ini bisa berawal dari hal-hal kecil. Seperti mem-bully, membunuh hewan, melukai teman, hingga kekerasan dalam game online, atau film yang mengandung kekerasan.

Sedangkan dari faktor internal, bisa dilihat fungsi otak bagian depan untuk mengambil keputusan. Jika berdasarkan teori dalam dunia psikologi, fungsi otak bagian depan ini memang baru bekerja matang ini saat seseorang mulai beranjak di usia 19 hingga 20 tahun.

“Akan tetapi jika inputnya saat di bawah usia 20 tahun ini terdapat banyak kekerasan, saat berusia 20 membuat semakin matang membuat strategi kekerasan,” kata perempuan asal Kecamatan Banyakan ini. Namun jika inputnya merupakan suatu hal yang postif, nanti ketika sudah dewasa dapat semakin bijak dalam menentukan perilaku.

Menurut Tatik, kekerasan yang dilakukan anak di bawah umur merupakan tanggung jawab dari semua pihak. Mulai dari keluarga, lingkungan sekitar, hingga sekolah. Adanya kekerasan besar kemungkinan karena kurangnya pantauan dari orang tua.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#tawuran #anak anak #remaja #kesehatan #psikologi