Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Jejak Jenderal Soedirman saat di Pare pada Perang Gerilya 1948

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 7 Juni 2023 | 16:48 WIB
JAGA KEBUGARAN: Renant Silva berlatih di Stadion Brawijaya. (Wahyu Adji/JPRK)
JAGA KEBUGARAN: Renant Silva berlatih di Stadion Brawijaya. (Wahyu Adji/JPRK)
Penetrasi yang dilakukan penjajah semakin terasa. Beberapa kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah dikuasai. Pare menjadi salah satu kota yang mencoba bertahan.

Belanda tidak menggubris isi perjanjian Renville. Mereka berdalih bahwa perjanjian tersebut macet. Tidak berjalan sesuai dengan yang ada. Dalih tersebut digunakan untuk mencampakkan perjanjian tersebut begitu saja. Hingga akhirnya melaksanakan Agresi Militer I.

Pada 19 Desember 1948, pasukan aggressor mulai merangsek ke Jogjakarta. Mereka mengerahkan pasukan melalui operasi lintas udara dan darat. Tak hanya Jogja saja. Beberapa kota lain di Jawa Tengah juga menjadi sasaran agresi.

Pada waktu hampir bersamaan, mereka juga melancarkan serangan di Jawa Timur. Seperti yang terjadi di Madiun dan Blitar. Penetrasi pasukan lawan itu mendapat atensi tinggi dari Komandan TNI Batalyon Merak Mayor Soenandar Prijo Soedarmo.

“Beliau memerintahkan untuk mempertahankan Kota Pare dan sekitarnya,” ujar Hendro Widjonarko, guru sejarah SMPN 4 Pare kepada Jawa Pos Radar Kediri. Dia menambahkan, pasukan langsung melaksanakan berbagai strategi dan operasi untuk menghalau kedatangan tentara penjajah tersebut.

Jenderal Besar Soedirman sempat melakukan gerilya hingga ke wilayah Pare pada 23 Desember 1948. Sebelumnya, Soedirman berhasil lolos dari serangan tentara Belanda di Ponorogo. Namun begitu, tentara lawan nampaknya sangat getol mengincarnya.

Tentara Belanda terus berusaha melacak keberadaan Soedirman. Hingga akhirnya mengendus keberadaannya di Kota Pare. Mereka langsung melancarkan serangan. Terutama melalui udara. Pesawat tempur Belanda membombardir dan menghujani Pare dengan peluru pada 25 Desember 1948 pagi.

Hendro mengatakan, serangan tersebut dilakukan dengan sporadis. Tidak ada sasaran yang jelas dari serangan yang dilakukan ini.

“Para penjajah pokoknya menghujani dengan peluru. Tidak hanya pasukan, warga sipil juga ada yang jadi korban akhirnya,” tutur Hendro.

Pria asal Desa Kedungmalang, Kecamatan Papar ini mengatakan bahwa tujuan serangan tersebut tidak hanya untuk memburu Soedirman semata. Pasukan lawan melakukan serangan itu sebagai upaya awal untuk melakukan aktivasi kembali pabrik-pabrik miliknya.

“Makanya dilakukan serangan sporadis. Kediri seperti surga bagi Belanda,” tandasnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita viral #serangan 1948 #berita terbaru #perang gerilya 1948