Desa wisata memiliki konsep yang sangat lekat dengan warga dan kearifan lokal. Sudah seharusnya keberadaannya mampu memberikan dampak positif. Tidak hanya bagi pengelola wisata maupun pemerintah desa (pemdes) saja. Namun juga bagi warga setempat.
Selain homestay masih banyak lini pendulang ekonomi yang bisa dikembangkan. Salah satunya sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Termasuk di dalamnya, warga yang berjualan di objek wisata yang ditawarkan.
“Desa wisata harus mampu memberikan efek positif kepada warganya. Salah satunya dari sisi ekonomi,” ujar peneliti di Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta Mulyono kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Menurut Mulyono, faktor ekonomi juga dinilai mampu menjadi salah satu pendorong warga terlibat secara langsung. Terlebih, jika roda ekonomi sudah berputar dengan baik akibat sektor pariwisata tersebut. Otomatis, warga akan merasakan dampak secara langsung. Dengan begitu, warga juga akan tergerak untuk berperan aktif mengelola dan mengembangkan wisata di desanya masing-masing.
“Kalau warga sudah merasa butuh keberadaan desa wisata, secara otomatis mereka juga akan ikut menjaganya,” tutur Mulyono.
Semakin lama wisatawan berkunjung di desa wisata, potensi ekonomi yang berputar akan semakin besar. Artinya, potensi pendapatan warga setempat juga akan semakin banyak. Hal ini tentu menjadi sesuatu yang bagus. “Berputarnya roda ekonomi ini memang menjadi salah satu tujuan adanya desa wisata,” tandas pria asal Klaten, Jawa Tengah tersebut.
Seperti halnya geliat UMKM yang ada di Desa Wisata Keling, Kecamatan Kepung. Tercatat, ada puluhan pelaku UMKM yang tumbuh seiring perkembangan wisata desa. Kondisi ini pun mendapat dukungan penuh dari kelompok sadar wisata (pokdarwis) setempat. Salah satunya dengan turut memberikan promosi kepada wisatawan untuk menikmati produk UMKM setempat.
Tercatat ada 15 warga asli Desa Keling yang diberi kesempatan berjualan di kawasan wisata Goa Jegles. Mereka diwadahi dengan konsep Pasar Sepuh. Buka setiap akhir pekan dan hari libur nasional. Berbagai jajanan, makanan, dan minuman dijajakan di sana.
Siti Mufatiroh, 45, salah seorang penjual, mengaku sangat senang dengan konsep tersebut. Dia membenarkan bahwa dapat merasakan langsung dampak perputaran ekonomi. Setiap kali berjualan, dia mampu meraup pendapatan antara Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu.
“Alhamdulillah, uangnya bisa jadi tambahan penghasilan,” aku penjual jajanan tradisional tersebut.
Terpisah, Kades Keling Imam Fatoni mengatakan bahwa pihaknya sengaja mendorong pelaku UMKM untuk ikut terjun langsung. Dia berharap, manfaat desa wisata mampu dirasakan oleh warganya.
“Harapannya roda ekonomi dapat berputar dan masyarakat dapat menikmatinya,” tandas Toni.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah