“Sabine...Sabine...sini ke depan. Main sama ayah,” panggil Nadeo Argawinata kepada sang anak yang bernama lengkap Sabine Noora Calea Winata. Sesaat kemudian muncul bocah dari dalam rumah. Jalannya masih tertatih. Kedua tangannya membentang ke samping. Berusaha menyeimbangkan badan ketika melangkah.
Setelah dekat, Nadeo segera menyambut dengan kedua tangan. Menggendongnya. Langsung lengket dengan sang ayah dengan saling tertawa. Pun, ketika sang ibu yang muncul di belakangnya menawarinya makan, sang bocah menggeleng. Tetap ingin bercengkerama dengan sang ayah yang seorang pemain sepak bola itu.
“Ayah...ayah...,” ucapnya ketika berada di gendongan Nadeo.
Anak perempuan berambut ikal itu anak pertama Nadeo, bersama sang istri, Destiara Sari. Ketika libur Lebaran kali ini, keluarga kecil ini boyon ke Desa Tawang, Kecamatan Wates kampung halaman Nadeo.
“Istri sama anak datang di Wates pas hari Lebaran kedua,” terang pemain berusia 26 tahun itu.
Sembari berucap itu, Nadeo mengambil bolpoin dan secarik kertas putih. Meskipun belum mahir menggenggam, si bocah berusaha meraihnya. Setelah bisa, tangan mungilnya bergerak-gerak. Mencoreti kertas dengan goresan bolpoin tersebut.
Bagi Nadeo, yang baru saja dikontrak Borneo FC, hal semacam ini sangat jarang dia rasakan. Ketika kompetisi berlangsung waktunya tersita dari pertandingan ke pertandingan. Lebih-lebih ketika ada jadwal timnas. Maklum pemain ini langganan menjadi penggawa timnas. Andalan di bawah mistar gawang tim araha pelatih Sin Tae Yong itu.
“Kalau dipanggil timnas bisa tidak pulang setahun,” terangnya.
Wajar bila saat libur kompetisi seperti sekarang ini dia memanfaatkan semaksimal mungkin. Menciptakan quality time. Tidak hanya dengan anak-istri, melainkan juga dengan orang tuanya di Wates.
“Setelah libur sampai hari Lebaran pertama itu di rumah istri yang di Kalimantan Timur. Sekarang gantian di rumah saya,” tambahnya.
Pengalaman membawa keluarga ke Wates adalah sesuatu yang sangat menyenangkan bagi Nadeo. Yang dia manfaatkan untuk pengenalan budaya. Wajar, istrinya adalah orang Kaltim. Tepatnyadi Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Sang anak pun lahir di kota itu. Alhasil keluarga ini punya perbedaan kultur yang sangat kental.
Sesuatu yang lucu pun kadang terjadi. Sebab, sang istri tak bisa bahasa Jawa. Bila Nadeo dan orang tuanya berbincang Kedirian, dia hanya mendengarkan. Setelah itu, giliran Nadeo yang menerjemahkan ke bahasa Indonesia.
Hal itulah yang membuat Nadeo bertekad mengajari sang anak berbahasa Jawa. Salah satu caranya adalah dengan memboyong mereka ke Wates. “Sabine anak Kalimantan asli ya nak,” ujarnya kepada sang anak yang saat itu sedang digendongnya.
Selain mengajari bahasa Jawa, Nadeo juga ingin mengenalkan kampung halaman ke sang anak. Rencananya, ketika sedang pulkam, Nadeo akan mengajak keluarganya berkeliling Kecamatan Wates dan sekitarnya.
“Kalau yang terlalu jauh enggak dulu. Di Wates aja yang dekat-dekat,” akunya.
Sampai kapan Nadeo berada di Wates? Nadeo menggeleng. Menandakan belum tahu sampai kapan waktunya di kampung halaman. Hingga kemarin, Nadeo belum mendapat panggilan dari klub barunya. “Selama menunggu panggilan itu saya dan keluarga masih di Wates terus,” ucap mantan pemain Bali United selama tiga musim itu.
Sembari menunggu panggilan tugas, Nadeo sudah punya agenda khusus. Yaitu mengenang masa-masa kecil. Dia akan bermain bersama teman-teman semasa masih satu tim di sekolah sepak bola (SSB) di Wates. Mereka sudah janjian bermain sepak bola.
“Mainnya di Lapangan Koramil Wates,” ujarnya sembari tangannya menunjuk ke kejauhan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah