Untuk diketahui, RSBL Kediri hanya bisa menampung maksimal 155 orang. Padahal, jumlah ODGJ yang harus masuk ke sana lebih dari 200 orang. “Ada 85 ODGJ yang saat ini antre masuk,” kata Kepala UPT RSBL Kediri Singgih Tri Wimbanu.
Puluhan orang tersebut menurut Singgih baru bisa masuk ke panti jika ada ODGJ atau penerima manfaat yang sudah pulang. Pasien baru bisa kembali ke rumah setelah kondisi kejiwaannya pulih. “Kalau belum sembuh, tidak bisa pulang,” lanjut Singgih.
Yang menjadi dilema pengelola, dari total ratusan penghuni panti tersebut, ada 63 orang masuk kategori tempat tinggal tidak tetap (T4). Penyandang ODGJ ini sulit untuk dipulangkan karena rumah mereka tidak jelas.
Di sisi lain, jika mereka meninggalkan panti setelah pulih pun tetap akan berisiko. Karenanya, puluhan orang tersebut seolah menjadi penghuni tetap asrama. “Di sini kapasitas kami terbatas. Padahal cakupan wilayahnya mencapai 21 kota dan kabupaten. Mulai dari Lamongan sampai Pacitan,” jelas Singgih ditemui di kantornya di Desa Butuh, Kras.
Singgih menjelaskan, RSBL memiliki dua asrama. Selain asrama di Kediri yang berkapasitas 155 orang, mereka juga memiliki asrama di Caruban dengan kapasitas 50 orang. Seperti halnya di asrama Kediri, menurut Singgih asrama di Caruban juga overload.
Pemulangan penghuni panti, idealnya hanya mempertimbangkan kondisi kejiwaan pasien yang sudah pulih. Kenyataannya, mereka sering dihadapkan pada masalah lain. Di antaranya, banyak penolakan dari masyarakat terhadap ODGJ yang sudah sembuh. “Stigma masyarakat masih memandang ODGJ sebagai orang yang berbahaya,” jelasnya sembari berharap 63 penghuni kategori T4 di sana bisa segera sembuh agar bisa bermasyarakat kembali.
Untuk diketahui, dalam penyembuhan ODGJ yang ada di panti, pengelola menghadapi beberapa tantangan. Selain kondisi panti yang overload, bangunan di sana diakui Singgih belum standar. Di antaranya, jumlah ruang isolasi hanya dua unit yang dinilai kurang. “Di sini juga ada bangunan rusak yang tidak memungkinkan untuk dihuni,” paparnya.
Selain fasilitas yang belum memadai, penyembuhan juga terkendala praktik bully yang sering dialami penghuni panti. Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Sosial RSBL Kediri Mohammad Zusron Ansori menyayangkan ada beberapa penghuni panti yang kondisinya membaik tiba-tiba memburuk lagi setelah diolok-olok.
Zusron mencontohkan, ODGJ yang hampir pulih sengaja dibebaskan beraktivitas. Tetapi, tak jarang mereka mendapat ejekan dari anak-anak. “Orang gila! Orang gila!” beber Zusron mencontohkan olok-olok dari anak-anak yang membuat ODGJ kembali agresif dan menarik diri.
Winda Dwi Wijayanti, salah satu pekerja sosial (peksos) di sana juga membenarkannya. Menurutnya, dari ratusan orang di panti, tidak sedikit yang menderita gangguan jiwa karena jadi korban bully sejak kecil. “Bisa saja diejek karena bodoh, masalah ekonomi, dan lainnya. Akhirnya menumpuk (emosinya, Red),” tandas Winda.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah