IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Namanya Kenzo Amedeuz Caesar. Usianya baru 15 tahun. Masih bersekolah di SMP Negeri 1 Kota Kediri. Dengan potongan rambut cepak, tubuhnya terlihat atletis. Menunjukkan terolah oleh aktivitas fisik yang intensif.
Ya, bocah asal Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem ini memang atlet bulutangkis. Berkali-kali mewakili Kabupaten Kediri di berbagai ajang tingkat provinsi. Seperti saat ditemui kemarin, sang atlet cilik ini tengah berlatih sendirian di halaman rumah.
“Persiapan untuk kejurkot (kejuaraan kota) Kediri besok (hari ini, Red),” ucap Kenzo singkat. Pandangannya terpaku pada shuttlecock yang dia pegang. Mengabaikan kicauan burung yang menemani sepanjang latihan.
Menerjuni cabang teplok bulu, Kenzo juga punya angan-angan besar. Setidaknya mencoba mengikuti jejak idolanya, Anthony Sinisuka Ginting. Yang mampu berlaga hingga level internasional.
“Pasti, mimpi bermain di level internasional itu pasti ada,” ucap siswa kelas 9 ini.
Tentu saja hal itu perlu perjuangan. Dan, khusus bagi Kenzo saat ini, perjuangan harus kian keras dan berat. Mengapa? Karena dia juga terbelit cedera patah tulang akibat kecelakaan pada Mei 2022. Akibat peristiwa itu dia bahkan terpaksa menepi dari kejuaraan di Malang.
Bahkan, oleh Aniesa-sang ibu-Kenzo diminta berhenti bermain badminton. Sebab, bagian yang patah adalah pergelangan tangan kiri. “Saya dan suami sudah bilang agar istirahat dulu. Namun, nyatanya sampai sekarang masih ikut berlatih dan ikut kejuaraan,” ucap Aniesa, menerangkan kekerasan hati sang anak.
Selama empat bulan Kenzo stop berlatih di klubnya, Wijaya. Namun, ketika di rumah, dia masih berusaha berlatih sebisanya. “Meskipun hanya namplek di halaman. Cock-nya saya pantul-pantulkan di tembok,” terang Kenzo, yang duduk di sebelah sang ibu.
Sampai saat ini pelat penahan patahnya pergelangan tangan kiri masih menempel. Hal itu sedikit memperlambat gerakan Kenzo. Meskipun dia bukan kidal, namun seluruh anggota badan penting dalam olahraga yang ia cintai sejak kecil ini.
Setelah operasi, meskipun belum benar-benar sembuh, sang bocah sudah ikut tiga kejuaraan. Baik single ataupun ganda. Medali emas juga ia raih meski kondisinya menurun. “Semangatnya ini memang sangat menggebu-gebu kalau masalah bulu tangkis, mungkin ini juga turunan dari ayahnya,” ujar Aniesa tertawa.
Memang benar, darah bulutangkis menurun dari sang ayah, Puguh. Awal ketertarikannya dengan badminton juga karena diajak sang ayah bermain bulutangkis. Di sela-sela itu dia menyempatkan melatih sang anak yang kala itu masih usia taman kanak-kanak (TK).
Ketika kelas 3 SD, Kenzo kian intensif memperdalam bulutangkis. Masuk salah satu klub di Kediri, Wijaya. Kemudian mengikuti pertandingan pertamanya.
Ketika kelas 4, Kenzo meraih juara 1 dalam olimpade olahraga siswa nasional (O2SN) tingkat kecamatan. Kemudian, di level kota dia meraih juara tiga di nomor tunggal.
Ada hal yang paling berkesan bagi Kenzo. Yaitu ketika mengalahkan rivalnya, pebulutangkis Nganjuk bernama Dimas. Keduanya seringkali bertemu di partai final.
“Saat mengalahkan Dimas 2022 lalu di Mojokerto rasanya senang sekali. Karena dia lebih hebat. Sekarang dia juga bergabung dengan klub bulutangkis asal Papua,” ujarnya.
Lecutan semangatnya itu memang membuat Kenzo semakin trengginas. Ingin mengikuti kesuksesan rivalnya itu. Namun saat ini, ia juga paham, menjadi siswa kelas 9 SMP di SMPN 1 Kediri harus fokus untuk persiapan kelulusan. Setelah itu baru fokus badminton lagi.(fud)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah