Jarum jam menunjukkan angka 11.00. Sabtu (4/2) lalu, Suciono sedang berkonsentrasi mengamati benda mungil di teras rumahnya dengan kaca pembesar yang melingkar di kepalanya. Tinggal di Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, lelaki 55 tahun ini punya aktivitas berbeda dengan masyarakat pada umumnya yang memilih bercocok tanam.
Sejak muda, lelaki yang rambutnya kini sudah memutih itu memang menjadi perajin logam. Ia menekuni pekerjaan itu sejak 1981 silam. Keterampilan yang tak banyak dikuasai warga Kediri itu didapatnya saat merantau ke Bali.
Diawali dari belajar mengukir kayu, kemampuannya berkembang pesat hingga beralih ke spesialis ukir logam. Di bawah rintik hujan, Suciono menunjukkan meja kerjanya berukuran 1,5x2 meter yang dipenuhi peralatan kerja seperti lampu belajar, pahat, hingga tempat cetakan logam.
“Kalau ada pesanan, produksinya ya di meja ini,” kata lelaki yang kembali menetap di kampung halaman sejak 2015 lalu itu. Di bawah sorot lampu 10 watt, Suciono telah memproduksi berbagai macam produk mulai dari bros, cincin, anting, hingga gelang. Semua dikerjakan sendirian. Rata-rata yang diproduksi adalah ukiran perak karena pasarnya terbilang masih bagus. Khususnya di Bali.
Suami Sunatri, 51, itu menunjukkan keahliannya di workshop berukuran 4x6 meter tersebut. Untuk membuat ukiran dia langsung memukul pahat mininya dengan pelan. Mengikuti pola yang ada di gambar malnya. Suara rintik hujan yang mengguyur Dusun Dorok siang itu pun kalah dengan ritme ketukan pahatannya. Pukulan demi pukulan akhirnya membentuk ukiran sesuai pola gambar yang dibuat lebih awal.
“Produksinya lama karena harus bikin mal (pola, Red) gambar dan menyesuaikan ukuran pahatnya. Karena semua peralatan yang dipakai masih tradisional,” papar pria yang tak pernah melepaskan kaca pembesar di kepalanya karena barang-barang yang di produksi berukuran mungil.
Secara teknik pembuatan, Suciono yang sudah menekuni ukir logam selama puluhan tahun mengaku tidak menemukan hambatan berarti. Hanya saja, untuk menyesuaikan dengan selera konsumen di Kediri, dia harus beradaptasi. Terutama saat membuat produk baru.
Sedikitnya Suciono butuh tiga kali uji coba. Tujuannya agar tangannya bisa luwes. “Kegagalan itu saya anggap uji coba,” ungkap lelaki yang gigi depan bagian atasnya sudah mulai tanggal itu.
Uji coba itu juga harus dilakukan saat dia mendapat pesanan bros perak bermotif lidah api dari Plt Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Tutik Purwaningsih. Sedikitnya butuh waktu sekitar satu bulan untuk membuatnya. Yang membuat proses produks lama bukan ukirannya. Melainkan saat harus menyesuaikan ukuran pahatan. Besar kecilnya pesanan akan mengubah jenis pahatannya. “Lima buah bros ini dibanderol dengan harga Rp 350 ribu,” akunya.
Sementara itu, Tutik mengaku suka dengan karya Suciono karena hasilnya rapi. Dia lantas memberi tantangan agar produknya diperbanyak dengan membuat produk yang punya ciri khas Kabupaten Kediri. Selain lidah api yang cocok dibuat untuk bros, motif lain yang kini sedang banyak diminati adalah situs Adan-Adan atau beberapa hasil seni yang sudah dipatenkan seperti Jaranan Jowo.
“Tantangan Pak Suciono saat ini adalah menyesuaikan produknya dengan Kediri, bukan lagi Bali,” tantang Tutik yang siap untuk memberi support kepada Suciono. Bagi kepala dinas perempuan ini, produk yang ditelurkan Suciono punya potensi untuk dikembangkan. Setidaknya nanti bisa jadi buah tangan ketika bandara sudah jadi. Toh, harga karya peraknya masih sangat terjangkau. Satu buah hanya Rp 70 ribu.
Suciono menerima tantangan yang disampaikan Tutik. Dia mulai mempelajari ukiran yang kini menjadi khas Kediri. Di awali dari membuat lidah api, ke depan dia akan kembangkan ke produk lainnya. Bagaimana dengan bahan bakunya? Ia mengaku tidak kesulitan karena kuini sudah ada di Gurah. Beberapa bulan lalu, ia sudah mengukir 1,5 kilogram perak. Dari situ, ia bisa memproduksi 200 buah cincin dan anting-anting beragam ukuran.
“Ukirannya masih khas Bali, karena itu produknya dikirim ke sana saja,” aku Suciono. Di Bali, harga jual produknya Rp 35 ribu sampai Rp 55 ribu. Menyesuaikan berat peraknya dan kesulitan ukirannya. Barang-barang yang ia produksi ditampung di berbagai galeri di Bali.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah