Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ethek-Ethek, Mainan Lawas yang Bikin Anak “Lupa” Gadget

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 9 Januari 2023 | 22:05 WIB
(Ilustrasi: Afrizal)
(Ilustrasi: Afrizal)
Dibalik suara bising ethek-ethek yang sering kali saling bersahutan atau dimainkan bersamaan, ternyata ada banyak dampak positif dari permainan jadul yang kembali nge-tren dengan nama latto-latto itu. Di antaranya membuat anak-anak lupa dengan gadget-nya.

Seperti dilakukan Pradipa, 11. Bocah asal Desa Sambirejo, Gampengrejo itu biasanya selalu memainkan gadget sepulang dari sekolah. Tetapi, semenjak ethek-ethek kembali nge-tren, dia bisa berpaling sejenak. Dia langsung sibuk memainkan dua bola itu untuk bisa memunculkan variasi bunyi dan gerakan yang berbeda.

“Ini gampang-gampang susah. Tidak semua bisa langsung memainkan latto-latto seperti ini,” akunya sambil mempraktikkan bermain latto-latto hingga bola berputar di atas selama beberapa menit.

Sejurus kemudian, dia mempraktikkan dengan variasi gaya lain. Yakni, memainkan latto-latto di bawah. Tak hanya sendiri, bocah yang duduk di bangku kelas VI SD itu memainkannya bersama dengan teman-temannya. Anak yang bisa bermain paling lama pun mendapat julukan “suhu”. Tak heran, setiap sepulang sekolah mereka selalu adu kepiawaian bermain latto-latto demi gelar “bergengsi” itu.

Terpisah, Rizal, 11, asal Desa Paron, Ngasem yang ditemui di kawasan SLG mengaku suka main ethek-ethek karena sudah mulai bosan dengan game yang ada di gawai. “Main ini (ethek-ethek, Red) lebih seru,” katanya. Untuk bisa mahir memainkan dua bola itu, mereka tidak hanya harus bisa memainkannya dalam waktu lama. Melainkan juga harus bisa freestlye. Mempraktikkan berbagai gaya.

Hal itulah yang belum bisa dilakukan oleh Rizal dan teman-temannya. Untuk sekadar menyimbangkan dua bola agar bisa saling berbenturan ke atas dan ke bawah, menurutnya butuh waktu hingga beberapa hari. “Latihannya harus terus sampai bisa seimbang dan mengarahkan bolanya,” tuturnya sembari menyebut jika salah gerakan bola bisa memukul tangan dan anggota tubuh lain hingga sakit.

Sementara itu, tren anak-anak yang menyukai latto-latto membuat para orang tua senang. Sebab, dengan kembali digemarinya ethek-ethek membuat anak-anak yang biasanya berdiam diri dengan gawai di rumah, kini kembali berinteraksi dengan teman-temannya sembari bermain ethek-ethek. “Walau masih main HP tapi sekarang sudah mulai berkurang,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan oleh Saiful Anam, 42, asal Kelurahan/Kecamatan Pesantren. Pria yang sehari-hari berjualan buah-buahan itu mengaku senang melihat anaknya tidak hanya sibuk dengan ponselnya. “Sekarang setelah pulang sekolah langsung ambil latto-latto. Mau battle katanya,” papar Saiful sambil tertawa.

Saiful berharap, tren latto-latto bisa bertahan lama. Dia senang melihat banyak kreasi latto-latto yang terus muncul. Sehingga, anak-anak akan terus merasa tertantang memainkannya. “Kalaupun nanti latto-latto sudah tidak nge-tren lagi, semoga ada permainan tradisional lain yang naik daun agar anak-anak tidak terus main HP,” tandasnya.

Jika orang tua senang dengan tren latto-latto, Psikolog Vivi Rosdiana melihat permainan ini memiliki dampak positif dan negatif. Dia sepakat jika permainan tersebut bisa menjauhkan anak dari kecanduan gawai. “Saya rasa memang ada banyak manfaatnya,” terang Vivi kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Dari segi permainan, ethek-ethek ini melatih dan merangsang orang yang memainkannya untuk melatih kesabarannya. Meski permainannya bisa dilakukan sendiri, akan terasa lebih seru jika dimainkan bersama teman atau ada tandemnya.

Bagi Vivi, permainan ini mengajak anak-anak untuk berinteraksi sosial. Sebab, di permainan itu ada pula sisi kompetisinya. Anak-anak lain akan berlomba menjadi yang paling mahir. “Permainan ini juga bisa melatih kesabaran dan melatih syaraf motorik anak,” bebernya.

Adapun dampak negatif dari permainan ini adalah ketika rasa penasaran anak tinggi dan memainkannya tidak kenal waktu. Suara yang dikeluarkan dari dua bola yang bertumbukan itu bisa menganggu orang sekitar. Karenanya, anak-anak perlu mendapat kontrol dari orang tua masing-masing.

Hal senada diungkapkan oleh dr Fundhi Krisna Adi Pinardi. Dia sering menjumpai anak-anak tak kenal waktu dalam bermain ethek-ethek. Terlepas dari hal tersebut, dokter spesialis rehabilitasi medis ini menilai permainan itu bisa digunakan untuk melatih konsentrasi pasiennya.

Permainan yang butuh latihan khusus itu menurut Fundhi tidak bisa dilakukan oleh semua pasien anak berkebutuhan khusus. “Tapi kalau mereka bisa memainkannya itu lebih bagus untuk melatih kekuatan otot tangan,” tegasnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #latto latto viral #kediri update #kediri hari ini #kediri viral #kediri info #berita kediri viral #info kediri #latto latto hits #berita kediri terkini #berita seputar kediri #latto latto #kediri hits #berita kediri hari ini #permainan terkini #berita viral kediri #update kediri #kediri news #kediri terkini #permainan jadul