“Baju ini temanya adalah casual ready to wear,” terang Arum Yusia, guru Tata Busana SMKN 3 Kota Kediri. Pakaian tersebut menggunakan kombinasi kain tenun asli Kediri. Busana buatan siswanya itu memang ditujukan untuk anak muda atau remaja.
Tak hanya remaja perempuan, juga laki-laki. Pakain ini menggunakan kain tenun bermotif Panji dan garis-garis. Kemudian, dibuat menjadi empat desain berbeda. Pakaian rancangan siswa sekolah kejuruan ini tampil di Dhoho Fashion Street 2022.
Tampilan pertama adalah three piece. Terdiri atas tiga bagian. Mulai dari dalaman, outer, dan bawahan. Bagian dalamnya berupa singlet tanpa lengan. Singlet berwarna pink dikombinasikan kain tenun bentuk plisket. Lalu, dibalut outer berupa bolero dari kain tenun yang sama. “Bolero ini menggunakan kerah rebah yang dikombinasi oleh sabuk,” terangnya.
Karena untuk remaja berhijab, bagian bawahnya berupa celana kulot panjang. Bahan terbuat dari kain Madinah warna abu-abu. Untuk model yang kedua, sama model three piece. Yang membedakan bagian dalaman dan outer-nya.
Busana kedua menggunakan dalaman blus lengan panjang dengan kombinasi manset kemeja. Sedangkan outer-nya ini bahunya adalah siripnya. Kain yang digunakan kombinasi motif panji, dan motif garis. Yang membuat unik outer ini juga dikombinasikan dengan kain katun madinah. Kain polos tersebut dibuat model plisket. Dan bagian bawahnya ini sama menggunakan kulot warna abu-abu.
“Untuk pakain ketiga ini three piece dengan bawahan rok,” kata Arum. Untuk bagian dalaman, blus menggunakan lengan balon berwarna abu-abu. Bagian oternya ini menggunakan kerah jas yang panjangnya sepinggang. Kemudian dipadukan dengan plisket terbuat dari kain madinah yang panjangnya selutut. Sedangkan untuk bawahnya ini modelnya adalah rok model A, yang menggunakan kain tenun merah motif garis.
Sedangkan pakaian laki-laki ini bagian dalamnya berupa manset abu-abu. Yang outernya ini seperti rompi dengan lengan licin, dipadu dengan obi. Sedangkan untuk celana ini bagian pinggang menggunakan ban karet, kainnya kombinasi tenun dan madinah.
“Alasan kenapa menggunakan warna merah, karena agar terlihat cerah,” ungkap Arum. Dimana warna cerah ini identik dengan kegembiraan, dan semangat anak muda. Editor : Anwar Bahar Basalamah