“Yen liwat aku kelingan Gubuk kae biyen tak nggo leren Ning cagak kebak tulisan Warna abang tondo isih perawan”
Sepenggal lirik lagu berjudul Gubuk Asmoro itu dilantunkan Andi Setiono saat kali pertama berjumpa wartawan koran ini. Karya Jithul Sumantri itu menjadi lagu favoritnya sejak 2017 lalu. Pemuda 26 tahun asal Desa Sempu, Kecamatan Ngancar ini lebih suka menyanyikan tembang Jawa daripada musik pop atau dangdut melayu.
Bakat menyanyinya menjadi modal Andi mendalami seni. Saat usianya 15 tahun, ia kerap nimbrung mendengarkan lagu-lagu jaranan yang dimainkan teman-temannya di kampung. “Saya penasaran sama alat musiknya,” akunya saat dijumpai sekitar pukul 11.30 kemarin (4/12).
Pertama diajak main gamelan, Andi diminta menabuh kenong. Namun awalnya ia sempat minder. Orang tuanya tidak setuju lantaran kondisi fisiknya. Sebab, anak pertama buah hati Taji dan Kusmiati itu mengalami kebutaan sejak lahir. “Bapak (Taji, Red) sepertinya enggak percaya,” ucap Andi.
Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, ia patuh dengan permintaan orang tuanya. Beruntung, Andi memiliki teman-teman yang baik. Para pemuda di desanya itulah yang kemudian memberi dukungan dan meyakinkan Pak Taji bila Andi punya potensi di bidang seni.
Berkat dorongan teman-temannya, Andi kemudian bisa masuk sebagai kru Krido Manggolo. Itu grup jaranan di Desa Sempu, Kecamatan Ngancar. Di bawah rintik hujan dan dinginnya angin lereng Gunung Kelud, Andi mampu menguasai semua gamelan. Tak hanya kenong, juga saron, demung hingga menabuh gong.
Berkat kemahirannya, Andi kerap menjadi pemain gamelan cabutan di grup jaranan lainnya. “Kalau ramai tanggapan lumayan bisa dapat tambahan uang saku,” katanya sambil melempar senyum. Jika tampil di luar grupnya dan bermain di luar Kecamatan Ngancar, ia bisa menerima Rp 50 ribu sekali pentas.
Andi bahkan sempat menjadi kru untuk live music di Kampung Indian, Ngancar. Yang dimainkan jenis native music yang mengangkat lagu-lagu tradisional Jawa. Di sana, Andi memainkan suling.
Dia melayani para tamu yang berkunjung dengan bermain musik bersama grupnya. Meski harus mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 17.00, pekerjaan itu cukup menjanjikan karena ada pemasukan. Sekali main musik, Andi mendapat Rp 100 ribu. “Sekarang sudah tidak ada karena pandemi,” akunya.
Andi yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan ini bersyukur bisa memainkan beragam alat musik. Sebagai penyandang disabilitas, ia ingin hidup mandiri. Keinginannya yang belum tercapai adalah memiliki alat musik yang bisa menghasilkan uang.
“Saya ingin punya organ tunggal sendiri,” ungkapnya. Menurutnya, alat musik piano keyboard techno itu bisa mengembangkan bakatnya sekaligus mewujudkan cita-citanya punya lagu sendiri dengan tetap mempertahankan budaya Jawa.
Jika nanti punya alat musik sendiri, Andi berjanji tidak akan melupakan teman lamanya di kru jaranan. Bila pun nanti mereka ingin memakai jasanya, 100 persen Andi siap melayani tanpa perlu memikirkan biaya.(ndr) Editor : Anwar Bahar Basalamah