Kepeduliannya pada negara tetap meninggi. Seperti ketika terjadi tragedi 1965. Kiai asal Cirebon ini punya peran besar membantu penumpasan pemberontakan PKI saat itu.
Setelah ontran-ontran 1965 mereda, Kiai Mahrus melakukan langkah yang sangat visioner. Dia mendirikan kampus Islam di Kediri. Bernama Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri. Disebut langkah visioner karena saat itu kiai kebanyakan berkonsentrasi di pendidikan pondok pesantren. Bukan di universitas yang menggabungkan pendidikan umum dan agama.
Ada banyak cerita yang melatarbelakangi Kiai Mahrus mendirikan universitas. “Salah satunya adalah dampak dari tragedi ’65,” kata Imam Mubarok dalam Focus Grup Discussion (FGD) di Gedung Lobi Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo kemarin (9/11).
Setelah peritiwa kelam 1965, jabatan di pemerintahan desa hingga kecamatan banyak yang kosong. Kekosongan itu disebabkan karena keterlibatan para pegawai di kelurahan/desa hingga kecamatan dengan partai terlarang. Saat itulah ada keinginan para camat di Kediri mengisi posisi lowong dengan kader Nahdlatul Ulama (NU) yang berlatar belakang santri.
Kader-kader NU yang potensial didorong untuk mengisi pos-pos itu. Sayang, mereka banyak yang gagal karena tidak memenuhi kualifikasi. Kendalanya adalah para santri tidak mengantongi ijazah dari lembaga pendidikan.
Situasi itulah menjadi salah satu asalan Kiai Mahrus mendirikan perguruan tinggi setingkat universitas. Harapannya, para santri bisa ikut andil berperan sebagai pengambil kebijakan yang berdasarkan Alquran dan hadis. Perguruan tinggi yang kini bernama Institut Agama Islam (IAI) Tribakti Kediri itu saat ini dipimpin Kiai Reza Ahmad Zahid atau yang karib disapa Gus Reza.
Rektor 42 tahun ini mengatakan bahwa kampus yang didirikan kakeknya itu masih berafiliasi dengan pondok pesantren Lirboyo. Pendirian perguruan tinggi ini adalah buah pikiran visioner Kiai Mahrus. Yang ingin mencetak ulama intelektual.
Bahkan, akronim nama perguruan tinggi ini sangat menggambarkan keinginan sang kiai. Bila disingkat, Universitas Islam Tribakti menjadi UIT. Namun, UIT juga bisa kependekan dari ulama intelektual.
Kini, kehadiran perguruan tinggi itu punya tujuan lebih luas. Yakni mengintegrasikan ilmu agama dengan wawasan secara umum. Sehingga anak didiknya lebih siap mengaktualisasikan diri ketika terjun ke masyarakat. Puluhan tahun berdiri, peninggalan Kiai Mahrus di bidang pendidikan ini terus eksis. Jumlah mahasiswanya mencapai 3 ribu lebih. Jumlah lulusannya pun telah puluhan ribu orang. Rencananya, gedungnya akan dibangun lebih luas dengan mengambil lokasi di Lereng Gunung Klotok.
Ketika didirikan pada 25 Oktober 1966 yang meresmikan adalah Menteri Agama Prof Syaifuddin Zuhri, didampingi Guru Besar IAIN Surabaya Prof Ismail Ya'qub. Awalnya bernama Universitas Islam Tri Bakti Pesantren Agung Lirboyo Kediri. Kemudian, pada 1988, berganti menjadi Institut Agama Islam Tribakti (IAIT). Gus Reza menambahkan, dalam waktu dekat kampus yang lekat dengan santri Lirboyo itu akan berubah lagi menjadi universitas.
Selain Kiai Mahrus Aly, beberapa kiai sempat menjadi rektor. Seperti Kiai Imam Yahya Mahrus, Abdullah Khafabihi Mahrus, yang kini jadi ketua senat, dan Gus Reza. Rektor yang disebut terakhir ini adalah lulusan Al Ahqaff University Hadramaut Yaman.Dia dilantik pada 2021 lalu. Editor : Anwar Bahar Basalamah