“Bisa dibilang bengkel juga, tempat nyangkruk, dan tempat tidur,” ujar Musafa yang kemarin berada di “showroom” miliknya di Desa Sumberejo, Kandat. Bangunan seluas 120 meter persegi itu memang bisa menjadi apa saja. Mulai tempat untuk mengoleksi skuter, tempat jual-beli skuter, tempat jual-beli onderdil, hingga sekadar untuk nyangkruk.
Meski terletak di desa, bangunan berukuran besar itu nyaris tak pernah sepi. Seperti kemarin (11/7) siang, Musafa tengah berbincang dengan empat orang tamu. Bisa ditebak, pembicaraan mereka tak jauh-jauh dari skuter.
Apalagi, tamu pria yang kemarin berkaus biru dongker itu memang scooterist dari Malang dan Kediri. Mereka sedang beristirahat di sana setelah mengikuti acara skuter Minggu (9/7) malam. “Seperti ini sudah biasa. Mereka kesini ngopi dan isirahat,” lanjut pria berusia 44 tahun itu tentang keberadaan tamu-tamunya.
Selain para scooterist yang sengaja mampir ke sana, ada banyak pecinta skuter yang mendatangi rumah di tepi sawah itu untuk berbagai tujuan. “Biasanya mencari onderdil skuter tua. Kan tidak di semua tempat ada,” paparnya tentang tempat yang diberi nama Basecamp Rencekan 56 tersebut.
Berada di pedalaman Desa Sumberejo, rumah Musafa memang hampir tiap hari didatangi orang asing. Warga sekitar pun sudah tak heran jika di rumah tetangganya itu tiba-tiba ada banyak orang.
Saking seringnya kedatangan tamu, setiap orang bertanya tentang vespa atau skuter, warga langsung mengarahkan ke rumah Musafa. “Warga sini juga sudah biasa begitu,” tuturnya.
Mengakrabi skuter sejak duduk di bangku SMA, sudah tak terhitung daerah mana saja yang didatangi bapak satu anak itu saat touring. Juga, dia tidak ingat lagi ada berapa banyak vespa yang digunakannya sebelum kemudian berpindah tangan kepada orang lain.
Jika awalnya hanya menyukai skuter, sejak tujuh tahun silam dia mulai menggeluti bisnis yang tak jauh dari hobinya itu. Pria yang baru tinggal selama
delapan tahun di Kandat itu membangun basecamp miliknya secara bertahap.
Pria asli Udanawu, Kabupaten Blitar ini bersyukur, usaha yang tidak banyak digeluti orang itu dengan cepat berkembang. Dengan bantuan teman-temannya sesama pecinta skuter, dia memasarkan dagangannya secara online. Tidak hanya itu, setiap ada kegiatan skuter dia juga sering membuka lapak.
Yang terakhir, dilakukan pemasaran dari mulut ke mulut. Cara ketiga itu ternyata paling efektif. Banyak orang yang kemudian datang ke basecamp miliknya setelah mendengar cerita dari sesama pecinta vespa.
“Semangatnya kekeluargaan. Cara berjualannya juga kekeluargaan,” paparnya. Basecamp miliknya juga terbentuk dari kuatnya rasa kekeluargaan para penggemar vespa. Dia mencontohkan, sebelum resmi menjual onderdil, banyak pecinta skuter yang datang ke rumahnya untuk sekadar memperbaiki motor atau minum kopi.
Lambat laun, semakin banyak scooterist yang datang ke sana. Musafa pun berusaha menyediakan semua keperluan teman-temannya. Tak terasa, belakangan terkumpul banyak onderdil. Hampir semua alat yang dibutuhkan skuter ada di sana. “Ini dulunya kandang sapi,” kenangnya sambil tertawa.
Banyaknya onderdil bekas atau onderdil jadul yang ada di sana itu pula, yang membuat Musafa menamai basecamp miliknya dengan kata “rencekan”. Adapun angka 56 dipilih karena dua angka itu ada di tengah-tengah. Angka itu sekaligus jadi simbol tentang tekadnya untuk tidak mengambil jalan instan jika ingin mendapat sesuatu.
Bertahun-tahun mengelola basecamp, Musaha menegaskan dirinya tak melulu berorientasi untung. Melainkan, tetap mengedepankan persaudaraan. Jika ada banyak cuan yang didapat, baginya itu merupakan bonus. Editor : Anwar Bahar Basalamah