Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Yuli Wintoro, Perajin Serabut Kelapa  yang Karyanya hingga Negara Manca

Anwar Bahar Basalamah • Jumat, 8 Juli 2022 | 16:18 WIB
LIMBAH: Yuli di antara karya coco pot yang kini terjual hingga ke Taiwan. (Foto: Rekian)
LIMBAH: Yuli di antara karya coco pot yang kini terjual hingga ke Taiwan. (Foto: Rekian)
Mengawali usaha dengan berdagang garam. Sebelum akhirnya kenal dengan kerajinan berbahan serabut kelapa. Sempat jatuh bangun sebelum kini karyanya mampu terjual hingga ke luar negeri.

“Dulu saya pernah bangkrut.” Ucapan singkat itu keluar dari mulut Yuli Wintoro. Di teras rumahnya, yang berada tepat di depan kantor Desa Besuk, Kecamatan Gurah, mengenang kejadian yang menimpanya beberapa tahun silam.

Yuli adalah seorang perajin coco pot. Tempat tanaman yang berasal dari serabut kelapa. Hasil karya tangannya itu telah melanglang buana hingga ke negeri manca. Buah dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Termasuk pernah tertipu oleh rekanan.

Dulu, dunia yang dia geluti jauh dari serabut kelapa. Dia adalah seorang pedagang garam. Yang membawanya berkeliling dari pasar tradisional ke pasar tradisional lain. Setiap kali ke pasar dia selalu  menjumpai tumpukan limbah kelapa. Benda buangan yang pada akhirnya mampu membuat hidupnya lebih mudah.

Semuanya berawal ketika bisnis jual beli garam yang dia rintis sejak 2000-an mulai tersendat-sendat. Jualannya tidak lancer. Hingga benar-benar bangkrut.

“Tabungan saya waktu itu tinggal Rp 3 juta,” akunya. Uang itulah yang nanti dijadikan modal memulai usaha kerajinan dari serabut kelapa. Yang dia rintis sejak 2017.

Tapi, saat itu, serabut kelapa tidak dia jadikan pot tanaman seperti sekarang. Melainkan mengolahnya menjadi sapu. Menggandeng mitra dari Blitar, Yuli menyebut keuntungan saat itu sangat tipis. Hanya Rp 300 hingga Rp 500 per batang sapu!

Padahal, Kebutuhan keluarga semakin bertambah. Merasa terdesak keadaan, dia pun iseng menawarkan limbah kelapa kepada seorang temannya di Malang. Temannya itu kebetulan juga menjual sapu sejenis seperti buatannya.

“Jawaban teman saya aneh. Dia minta saya bakar limbahnya. Tapi dia juga minta saya bikin pot dari serabut kelapa,” kenang bapak tiga anak itu.

Dari situlah awal ide membuat coco pot muncul. Lulusan sekolah teknik mesin (STM)-sekarang SMK-jurusan listrik ini pun membuat pot dari limbah kelapa. Desainnya sesuai dengan contoh yang diberikan sang teman. Kawat sebagai rangka penguat pot dia ambil dari bekas kandang burung puyuh.

Saat karyanya jadi, ia menunjukkan dulu ke istrinya, Suhaimi. Meminta penilaian. Yuli memang berprinsip, setiap karya harus mendapat nilai positif dari sang istri. Kalau dianggap bagus akan dia tunjukkan ke temannya.

“Waktu itu istri sudah oke,” tuturnya.

Ketika ditunjukkan ke temannya, sesuatu yang tidak dia duga terjadi. Sang teman minta dibikinkan 150 unit! Tanda bahwa sang teman tertarik pada karyanya. “Harganya waktu itu masih Rp 8 ribu,” lanjutnya.

Karena mendapat permintaan dalam jumlah besar, Yuli mengajak istri dan dua anaknya membantu produksi. Dia bersyukur anak dan istrinya antusias membantu. Sehingga bisa memenuhi pesangan untuk pasar di Malang itu.

Pada 2018, produknya mulai dikenal masyarakat. Yuli pun berani memberi nama produknya dengan Kawoels Sepet. Teras rumah berlantai keramik pun jadi workshop.

Pemesanan yang semula 150 unit naik perlahan menjadi 200 unit. Hingga rutin 700 sampai 800 unit setiap minggunya. Akhirnya, dia mulai kewalahan ketika pesangan temannya dari Malang naik jadi seribu unit. Dia pun merekrut dan mengkaryakan tetangga.

Ketika permintaan datang dari luar Jawa datanglah cobaan itu. Dia kirim barang ke Palu, Sulawesi. Yang terjadi, hasilnya tak sesuai perjanjian.

“Saya kena tipu. Kalau dihitung ruginya sampai Rp 10 juta,” kenangnya.

Dia sempat berupaya keras mencari cara agar uangnya kembali. Tapi, semakin dipikirkan semakin pekerjaannya menjadi terbengkalai. Dia pun akhirnya menghikhlaskannya. Dianggap sebagai sekolah kehidupan.

“Saya pikir hampir semua pengusaha pernah merasakannya,” ungkapnya.

Setelah itu, pada 2019, ada orang Taiwan yang datang ke workshop-nya. Tak disangka, sang konsumen tertarik. Akhirnya keduanya bekerja sama hingga sekarang. Dalam kurun waktu 1 sampai 1,5 bulan selalu kirim satu kontainer ke negara itu. Jumlahnya 12 ribu unit sekali kirim.

Karena permintaan tinggi, dia lantas membuka lapangan pekerjaan. Setidaknya, kini sudah punya 20 orang mitra. Mereka bekerja dari rumah masing-masing dan tidak perlu mengerjakan coco pot di rumah Yuli.

“Baru-baru ini, saya penjajakan dengan orang New York,” akunya. Karena model yang diminta unik, dia pun berharap bisa melayani konsumen sesuai permintaan mereka.

Omzet penjualannya saat ini mencapai Rp 50 juta hingga Rp 70 juta. Dia mengklaim, kenaikan omzetnya terjadi pada saat Covid-19. Kenaikannya mencapai 200 persen. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#perajin #coco pot #radar kediri #berita terkini #seputar kediri #kediri #harmoni kediri #pengrajin serabut kelapa #info kediri #umkm #berita terbaru #perajin serabut kelapa #serabut kelapa #pengusaha #info terbaru #Yuli Wintoro #desa besuk #info terkini #coco #new york #jual beli garam #workshop #motivasi #covid-19 #kediri lagi #berita kediri #inspirasi #perajin sabut kelapa #coco peat #garam #kecamatan gurah