Mereka menapaktilasi tempat persinggahan terakhir Datuk Ibrahim Tan Malaka di wilayah kabupaten. Mulai dari berziarah ke pusaranya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen hingga mendatangi monumen pahlawan itu di Desa Petok, Kecamatan Mojo.
Di monumen Tan Malaka, komunitas peduli sejarah tiba sekitar pukul 12.30, Kamis (2/6). Membawa sapu dan arit, mereka membersihkan tugu seluas sekitar 5x5 meter. “Sudah ada plang nama, tulisannya Bapak Republik Tan Malaka,” kata Iwan Kurniawan, koordinator komunitas peduli sejarah.
Monumen itu sepertinya sudah lama tidak dikunjungi. Rumput setinggi 30 sentimeter sudah memenuhi area tugu. Lelaki berkacamata itu miris melihat keadaan tugu yang tidak terawat. Namun ia juga tidak bisa menyalahkan siapa pun. Sebab banyak yang tidak tahu Tan Malaka yang tugunya berdiri gagah di tepi perkampungan.
“Ini tugas kita semua untuk menjaga ini. Kita hanya tinggal merawat,” ucap pemuda berambut ikal itu.
Agar tetap diingat, Iwan yang kini menetap di Tulungagung akan membuat berbagai kegiatan. Tujuannya, mengenalkan Tan sekaligus mengengangnya.
Tidak hanya berdiskusi dengan mahasiswa, tetapi juga menggelar kegiatan seni seperti monolog hingga pemutaran film. Di Kediri, Iwan bisa melakukan kegiatan tersebut bersama komunitas.
Bila perlu, kegiatannya digelar di monumen. “Setelah ini, kalau ada sedikit dana kita akan lakukan pengecatan pagar,” lanjutnya. Pagar yang mengelilingi monumen itu pun kini sudah ada yang rusak. Panjang kerusakan sekitar satu meter dan sama sekali belum diperbaiki.
Mengetahui kondisi itu, anggota DPRD Kabupaten Kediri Taufik Chavifudin berharap, ada kepedulian dari pemerintah pusat dan daerah. Setidaknya bisa memposisikan tempat bersejarah itu secara patut.
“Selama ini yang merawat justru dari komunitas pencinta sejarah atau Tan lovers,” katanya. Editor : Anwar Bahar Basalamah