Sebagai seorang dokter, Soetomo harus siap bertugas di mana saja. Termasuk di luar pulau Jawa. Profesi itu pula yang memberi berbagai pengalaman baru dalam kehidupannya.
Soetomo tercatat masuk di STOVIA pada tahun 1903. Saat itu, dia masih berusia 15 tahun. Meski terkenal sebagai siswa yang cerdas tetapi Soetomo tidak cepat lulus sekolah kedokteran. Hal itu karena Soetomo adalah seorang aktivitas. Dia aktif berbagai organisasi yang mendukung kemerdekaan Republik Indonesia.
Untuk lulus dari STOVIA, Soetomo membutuhkan waktu sekitar delapan tahun. Soetomo tercatat lulus dari STOVIA pada tahun 1911. Setelah lulus STOVIA, Soetomo menyandang gelar dokter. Kemudian, praktik mengobati warga yang sakit. “Dr Soetomo ditempatkan di berbagai daerah setelah menjadi dokter,” ujar Kukuh Riyanto, 33, juru pelihara (jupel) Museum dr Soetomo Nganjuk kepada koran ini.
Dari keterangan Kukuh, awal mula karir Soetomo sebagai seorang dokter dimulai di Jawa Tengah. Tepatnya di Semarang. Kemudian, Soetomo kembali ke Jawa Timur. Namun bukan di tanah kelahirannya, Nganjuk. Melainkan di Kabupaten Tuban.
Setelah sempat merasakan kembali Jawa Timur, Soetomo bertugas jauh dari tanah dia dilahirkan. Dia ditugaskan menjadi dokter di Lubuk Pakam, Sumatera Utara. Kemudian, Soetomo sempat kembali ditugaskan di Jawa Timur setelah dari Pulau Andalas. Namun tetap tidak mendapatkan kesempatan bertugas di Kota Angin. “Beliau (Soetomo, red) juga sempat ditugaskan di Malang,” imbuh Kukuh.
Sayangnya, tidak banyak informasi yang menyebutkan berapa lama waktunya bertugas di setiap masa tugasnya tersebut. Meski tidak pernah bertugas di Nganjuk, namun beberapa alat medis miliknya bisa kita dijumpai di Museum Dr Soetomo. Menurut Kukuh, ada berbagai peralatan medisnya yang disimpan di sana. Tempat tidur yang dulu digunakannya untuk praktik juga dipajang di museum tersebut. “Ini dulu memang milik Beliau. Sekarang disimpan di museum dan menjadi salah satu daya tarik museum ini,” ujar Kukuh. (tar/tyo)
Editor : adi nugroho