Syekh Abdullah Mursyad adalah salah satu wali penyebar Islam di Kediri. Merupakan salah satu dari empat keturunan Raden Fatah. Makamnya jadi jujukan banyak peziarah.
IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Berjarak sekitar 10 kilometer dari makam Mbah Wasil di Kelurahan Setonogedong, Kecamatan/Kota Kediri ada makam ulama besar lainnya. Ke arah utara, berada di Dusun Setonolandean, Desa Bakalan, Kecamatan Grogol. Yang dimakamkan adalah Syekh Abdullah Mursyad atau biasa dipanggil Mbah Mursyad.
Makam ini menjadi salah satu jujukan warga untuk berziarah. “Tidak hanya warga sini saja, dari luar kota juga banyak,” ujar pengurus Makam Mbah Mursyad Edi Prasetyo.
Dalam sejarahnya, Mbah Mursyad adalah tokoh penyebar agama Islam pada abad ke-16 dan 17. Silsilah keluarga berasal dari Kerajaan Demak di Jawa Tengah.
“Apabila ditelusuri masih ada hubungan dengan Raden Fatah,” jelas Edi.
Masih menurut Edi, kisah tentang Mbah Mursyad selalu diceritakan secara turun-temurun. Dia mendapat cerita dari kakeknya yang juga mantan kepala desa setempat.
Bagaimana bisa dari Demak berlabuh ke Kediri? Edi mengatakan semua berawal dari kakek buyut Mbah Mursyad. Yaitu Panembahan Wiraswara. Edi mengatakan bahwa Panembahan Wiraswara memulai hidup baru dengan tidak mengikuti jejak para leluhurnya. Ia mulai mengasingkan diri ke wilayah Kediri.
Pengasingannya ke Kediri ini memiliki tujuan. Yakni untuk menyebarkan agama Islam. Dalam perjalanannya, Wiraswara menikah dan memiliki keturunan. Yaitu Pangeran Demang I. Akhirnya, keduanya menyebarkan agama Islam di wilayah Setonogedong dan sekitarnya. “Keduanya dimakamkan di Setonogedong, Kota Kediri,” ujar Edi.
Setelah kedua tokoh itu meninggal, penyebaran agama Islam tidak berhenti. Dilanjutkan oleh Pangeran Demang II. Sosok ini diyakini menyebarkan agama Islam di wilayah Ngadiluwih dan sekitarnya. Makam Pangeran Demang II juga berada di daerah Ngadiluwih tersebut.
Mbah Mursyad sendiri adalah anak dari Pangeran Demang II. Bedanya, bila sang ayah melakukan syiar kebenaran di wilayah Ngadiluwih, sang anak memilih lokasi di sekitar daerah yang kini menjadi wilayah Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Versi lain, Pangeran Demang II selain belajar dan mengajarkan agama Islam di Mrican, juga melakukannya di Ngadiluwih atau Kediri bagian Selatan. Dengan menggunakan alat transportasi air melalui Sungai Brantas.
Perjuangan penyebaran agama Islam kala itu sangat berat. Karena kebudayaan dan kentalnya masyarakat Kediri dari sisa-sisa kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan kecil yang masih menganut agama Hindu atau Buddha yang kental saat itu.(fud/bersambung)
Editor : adi nugroho