Kabupaten Nganjuk memiliki sejarah yang luar biasa. Mulai dari zaman kerajaan, penjajahan hingga saat ini. Banyak pahlawan lahir dari Kota Angin. Mulai hari ini, Jawa Pos Radar Nganjuk akan mengulas perjuangan para pahlawan yang namanya akhirnya diabadikan menjadi nama jalan.
Pahlawan Kota Angin yang pertama kali kita ulas adalah Dermojoyo. Nama Dermojoyo ini sudah menjadi nama jalan di Kecamatan Nganjuk. Di Jalan Dermojoyo, banyak kantor pemerintahan. Mulai dari Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Nganjuk, Kecamatan Kota, Badan Narkotika Nasional (BNN), Badan Pertanahan Nasional (BPN), Kantor Kejaksaan Negeri Nganjuk, Kantor Kemenag Kabupaten Nganjuk, Pengadilan Negeri Kabupaten Nganjuk, Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Nganjuk.
Selain di Kecamatan Nganjuk, nama Dermojoyo juga menjadi nama jalan di Kecamatan Tanjunganom dan Berbek. “Dermojoyo ini adalah seorang kiai yang berjuang melawan penjajah Belanda,” ujar Aries Trio Effendi, pemerhati sejarah Nganjuk.
Sebagai ulama, Kiai Dermojoyo tidak tega dengan kekejaman penjajah Belanda kepada rakyat. Tindakan Belanda yang sewenang-wenang kepada rakyat Indonesia, khususnya warga Kabupaten Nganjuk, membuatnya murka. Puncak dari kemarahan Dermojoyo adalah saat Belanda mengingkari janjinya untuk menghapus aturan landelijk stelsel atau sistem sewa tanah. Selain sudah mengingkari, Belanda tega menaikan uang pajak tanah. Akibatnya, rakyat semakin sengsara. Akhirnya, Dermojoyo memutuskan untuk mengangkat senjata mengusir penjajah dari Nganjuk. “Kiai Dermojoyo ini memiliki banyak santri di Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom,” ungkap Aries.
Keberanian Kiai Dermojoyo mengusir penjajah ini membuat Belanda kalang kabut. Karena awalnya, mereka tidak menduga jika ada yang berani menentangnya. Apalagi, ternyata Kiai Dermojoyo ini adalah kiai dengan santri yang banyak. Warga juga mendukung perjuangan Kiai Dermojoyo. Perang akhirnya meletus pada 29 Januari 1907. Saat itu, Kiai Dermojoyo dan puluhan santrinya menyerang Pabrik Gula Kutjonmanis di Dusun Bendungan, Desa Sumbersari, Kecamatan Tanjunganom yang dikelola Pemerintah Hindia Belanda. “Belanda sampai harus meminta tambah pasukan dari Surabaya untuk menghadapi Kiai Dermojoyo,” ujar Aries. (tar/tyo)
Editor : adi nugroho