Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gus Miek Ubah Bait Syair ‘Pemujaan’ Makam Mbah Ageng

adi nugroho • Selasa, 5 April 2022 | 18:25 WIB
gus-miek-ubah-bait-syair-pemujaan-makam-mbah-ageng
gus-miek-ubah-bait-syair-pemujaan-makam-mbah-ageng



Awalnya, warga Dusun Tambak belum banyak menjalankan syariat Islam seperti salat. Mereka pun menjadikan tiga makam para syeikh itu sebagai tempat ‘sesembahan’. Gus Miek pun mengubah beberapa bait syair sesembahan yang digunakan.



Belum ada kepastian waktu, kapan pertama kalinya makam tiga para syeikh di Dusun Tambak, Desa Ngadi, Kecamatan Ploso, Kabupaten Kediri, diketemukan pertama kali. Namun, kebanyakan menyebut pada 1836. Meskipun ada yang menyebut 1836.



Semua penyebutan tahun penemuan itu terjadi pasca-Perang Jawa yang berlangsung 1825-1830. Karena itu, tiga makam yang ada tersebut diyakini erat kaitannya dengan Pangeran Diponegoro, sosok perlawanan terhadap Belanda dalam perang tersebut.



Bahkan, konon, anak sulung Sultan Hamengkubuwono III pernah tinggal di Tambak saat perang tersebut berlangsung. Karena itu pula makam-makam itu diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir pengikut Pangeran Diponegoro.



"Kami (warga Dusun Tambak, Red) dulu menyebutnya dengan nama Mbah Ageng tiga makam. Sejak dulu makam itu dikenal keramat dan angker," cerita  Ketua Takmir Masjid Al-Auliya' Tambak Komarudin.



Saat itu makam-makam tersebut belum bernama. Tidak seperti saat ini, yang sudah ada identitas jelas dari makam-makam tersebut. Yaitu Syekh Abdul Qodir Choiri bin Ismail Al-Iskandariyah, Syekh Maulana Abdullah Sholih Al-Istambuli, dan Syekh Maulana Muhammad Herman Arruman.  



Penemuan makam Mbah Ageng bermula dari sosok yang bernama Ali Basiran Seno Atmojo, yang dikenal dengan sebutan Mbah Basiran. Kisahnya dilatarbelakangi mistis. Yaitu ketika Mbah Basiran bermimpi didatangi tiga orang berjubah. Yang meminta membuka tanah serta merawat tiga makam yang ada di tanah tersebut.



Saat itu, Mbah Basiran ketakutan. Merasa tak mampu bila harus membuka tempat yang dikenal angker. Dia kemudian menemui Kiai Imam Nawawi di Pondok Pesantren Ringinagung Pare. Menceritakan tentang mimpinya itu.



Oleh Kiai Nawawi, Mbah Basiran juga disebut sebagai orang yang mampu merawat makam keramat itu. Namun, karena merasa tak sanggup, sang kiai akhirnya mengirimkan salah seorang santrinya. Santri yang juga bernama Imam Nawawi inilah yang akhirnya membuka dan merawat makam tersebut.



Dalam perjalanan waktu, Imam Nawawi inilah yang disebut sebagai orang pertama yang membuka tiga makam Mbah Ageng. Hingga akhirnya sering menjadi tempat berziarah para tokoh Islam seperti Kiai Raden Fatah dari Pondok Menara Mangunsari, Tulungagung,  Kiai Mubasyir Mundzir dari Bandar, hingga Kiai Hamim Djazuli dari Ploso.



Kisah yang sedikit berbeda ditulis dalam buku Perjalanan dan Ajaran Gus Miek karnagan Muhmad Nurul Abad dengan editor Kiai Agus Sabuth Panoto Projo. Dalam buku ituMbah Ali Basiran Seno Atmojo juga dikenal sebagai Imam Asy'ari. Sedangkan Imam Nawawi yang menemukan makam itu adalah putra Imam Asy’ari. Penemuan terjadi pada 1936 di dalam pelariannya sebagai prajurit Diponegoro.



Di era Gus Miek, masyarakat Tambak masih jarang yang menjalankan syariat Islam. Terutama salat lima waktu. Mereka juga meyakini makam-makam itu sebagai tempat persembahan. Dengan menyebutnya sebagai makam Mbah Ageng. Gus Miek yang merasa bahwa makam itu  memang tempat tokoh Islam, sedikit-demi sedikit memasukkan syiar Islam dalam kebiasaan warga. Termasuk mengubah beberapa bait dari syair sesembahan warga ketika berziarah ke makam tersebut.



Selain itu, sudah lama Gus Miek memimpikan makam Tambak dibangun sebagaimana makam Sunan Ampel. Ini tak lepas dari sosok Gus Miek yang sangat mengidolakan Sunan Ampel.(rekian/fud/bersambung) 



Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #kediri #info kediri #info terkini #berita kediri