Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Berziarah ke Makam Aulia di Kediri

adi nugroho • Senin, 4 April 2022 | 19:14 WIB
berziarah-ke-makam-aulia-di-kediri
berziarah-ke-makam-aulia-di-kediri


Mulai edisi ini, redaksi akan menurunkan tulisan tentang makam-makam para aulia yang ada di Kediri. Bercerita tentang perjalanan semasa hidup sang tokoh, serta bagaimana tempat peristirahatan terakhirnya itu terus memberi manfaat bagi umat. Diawali tulisan tentang Makam KH Hamim Djazuli yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Miek.


Peristirahatan terakhir Kiai Hamim Djazuli alias Gus Miek berada di Desa Tambak, Kecamatan Ploso, Kabupaten Kediri. Desa yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Tulungagung. Makam ini sangat dikenal oleh para peziarah. Selalu ramai dikunjungi.


Namun, bila Ramadan, jumlah peziarah tak seramai biasanya. Seperti kala usai salat Tarawih (2/4), hanya beberapa orang yang yang terlihat berda di makam itu. Mereka silih berganti duduk di karpet yang sudah tergelar di dekat makam Gus Miek dan sang istri.


“Kalau (bulan) puasa memang sepi begini,” Agus Suhadi, 55, warga sekitar makam menjelaskan pada Jawa Pos Radar Kediri yang datang ke lokasi saat itu.


Berbeda bila bukan Ramadan. Terutama sebulan sebelumnya, jumlah peziarah lebih banyak lagi. Mereka juga datang dari berbagai kota di Indonesia. Tak hanya dari Jawa Timur saja, juga dari Jawa Tengah, Jawa Barat, ataupun Jakarta. 


“Kalau (peziarah) dari Sumatera, yang pernah saya temui dari Lampung,” terangnya.


Bagi warga setempat, keberadaan makam sang aulia sungguh terasa manfaatnya. Desa Tambak menjadi terkenal dan ramai dikunjungi peziarah dari luar kota.


Pemilihan Desa Tambak sebagai lokasi peristirahatan terakhir, datang dari Gus Miek sendiri. Padahal desa itu bukanlah tempat kelahirannya. Mengutip buku ‘Perjalanan dan Ajaran Gus Miek’ karya Muhammad Nurul Ibad yang dieditori Kiai Agus Sabuth Panoto Projo, alasan Gus Miek kala itu adalah karena di desa ini terdapat tiga makam tokoh besar yang sering diziarahi oleh para kiai.


Sejak kecil, usia 6 tahun, Amiek (Gus Miek) sering ke makam Desa Tambak. Ada tiga makam yang ditemukan pada 1839 di tempat ini. Kedatangan Gus Miek itulah yang dimaksudkan sebagai upaya memperkenalkan makam-makam tersebut ke masyarakat. Sekaligus sebagai bentuk kepedulian terhadap makam-makam tersebut.


Selain itu, juga untuk memenuhi ikatan batiniahnya dengan para wali. Serta mempelajari sosial budaya masyarakat sekitar.


Menurut Ketua Takmir Masjid Al-Auliya’ Komarudin, tiga makam yang disebut itu kini berada bersebelahan dengan masjid. “Punjernya (tiga makam, Red),” kata lelaki 49 tahun warga Desa Tambak, Kecamatan Ploso. Konon keberadaan makam tersebut erat kaitannya dengan Pangeran Diponegoro.


Alasan kuat Gus Miek memilih Tambak sebagai tempat peristirahatan terakhirnya adalah karena ingin memuliakan ketiga tokoh besar tersebut. Ketiganya adalah berstatus syekh. Bernama Abdul Qodir Choiri bin Ismail Al-Iskandariah, Maulana Abdullah Sholihi Al-Istambuli, dan Maulana Muhammad Hirman Ar-Ruman.(rekian/fud/bersambung)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #kediri #info kediri #info terkini #berita kediri #ziarah