Ada Pecinan di kelurahan ini. Uniknya, kampung yang didominasi warga keturunan Tionghoa ini tak melulu berciri oriental. Ada perpaduan Jawa dan Eropa pada arsitektur bangunan lawasnya.
Bila memasuki Pecinan-sebutan kawasan yang banyak dihuni warga keturunan Tionghoa-di Kota Kediri kita tak hanya disuguhi kesan oriental saja. Bangunan-bangunan lawas yang tersisa, punya karakter khas. Yang berbeda dengan Pecinan di kota-kota lain. Bila umumnya arsitektur atau ornamen bergaya Tiongkok mendominasi gedung-gedungnya, di sini tidak. Gedung kuno yang masih tersisa punya karakter menggabungkan tiga budaya sekaligus.
Di bangunan-bangunan lawas itu, yang belum tersentuh renovasi, arsitekturnya persilangan tiga budaya sekaligus. Jawa, Tionghoa, dan Eropa! Ciri Eropa tempo dulu terlihat dari empat pilar penyangga yang berukuran besar. Khas bangunan Eropa klasik yang menunjukkan kekokohan. Kemudian, ciri sebagai hunian warga Tionghoa ada pada pintu-pintunya. Pintu-pintu itu punya hiasan khas bermotif bunga, guci, dan naga yang berwarna kuning keemas an.
Lalu, apa keterwakilan budaya Jawa di bangunan itu? Ada lengkungan di bagian atap. Khas rumah joglo yang merupakan representasi bangunan-bangunan Jawa kuno.
Sadar dengan potensi yang dimiliki, Kelurahan Pakelan membangun dan menata lingkungannya menjadi destinasi wisata bertema sejarah. Kepala Kelurahan Pakelan Subadi Waluyo mengatakan banyak sekali bangunan bersejarah di kelurahannya. Bahkan gedung Kantor Kelurahan Pakelan telah terdaftar sebagai salah satu cagar budaya.
“Selain gedung kantor kelurahan ini, bangunan milik pribadi warga juga banyak yang menjadi bangunan cagar budaya. Banyak yang tersembunyi dan tidak tampak dari jalan,” ujarnya.
Oleh karena itu, dia bersama jajarannya mengenalkan tiga kawasan di Pakelan. Yaitu Kampung Pecinan, Kampung Jawa, dan Kampung Heritage.
Kampung Pecinan tercetus karena wilayahnya sepanjang Jalan Yos Sudarso dipenuhi dengan bangunan khas Tionghoa. Selain itu, juga menjadi lokasi tempat beribadah karena terdapat kelenteng di tempat ini.
Sementara Kampung Jawa ini berada di Jalan Trunojoyo. "Di sana lebih banyak masyarakat muslim, ya meskipun itu masih minoritas," terangnya.
Begitupun pada Kampung Heritage yang berada di Jalan Wolter Monginsidi. Sepanjang jalan tersebut seolah seperti kawasan Eropa. Itu karena terdapat lampu dan tiang estetik yang dipasang sejak Juli 2021 lalu. Ditambah dengan lima papan nama bertuliskan perpaduan aksara Jawa dan Tionghoa yang sebagai Identitas Pakelan yaitu terdiri dari berbagai etnis dan agama. (ica/fud)
Editor : adi nugroho