Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Imam Suhadi Sulap Bambu Jadi Songkok dan Topi Estetik

adi nugroho • Jumat, 18 Februari 2022 | 18:43 WIB
imam-suhadi-sulap-bambu-jadi-songkok-dan-topi-estetik
imam-suhadi-sulap-bambu-jadi-songkok-dan-topi-estetik




 



Songkok dan topi dari bambu? Banyak yang tidak mengetahuinya. Maklum, pasar kerajinan yang dibuat oleh Imam Suhadi sejak 2007 lalu itu memang mayoritas di luar Jawa.





Terletak di sebuah gang kecil di RT 02, RW I, Dusun Jatirejo, Desa Kanigoro, Kras, rumah Imam Suhadi bisa dibilang ‘terpencil’. Tertutup sejumlah rumah di Jl Raya Desa Kanigoro. Satu-satunya penanda yang memudahkan untuk mencari rumah pria berusia 63 tahun itu adalah tumpukan kerajinan dari bambu di teras.



          Saat Jawa Pos Radar Kediri mendatangi rumah bercat hijau itu, Suhadi terlihat sibuk menganyam bambu. “Ini mau dibuat topi,” kata pria berkaus merah tersebut sembari menunjukkan lembaran anyaman berwarna cokelat berukuran 50x60 sentimeter.



          Lembaran yang tidak terlalu lebar itu tidak hanya menghasilkan satu kerajinan. Jika khusus dibuat topi, satu lembar anyaman bambu itu bisa disulap jadi dua topi. Adapun jika dibuat songkok, yang prosesnya lebih detail, justru bisa menghasilkan tiga songkok.   



          Bagaimana bisa lembaran anyaman itu bisa dibuat topi? Dengan cekatan dia menunjukkan beberapa langkahnya. Setelah membuat pola di kardus bekas, dia lantas memotong lembaran anyaman itu sesuai pola. Langkah terakhir, dia merekatkan anyaman menggunakan lem khusus agar menjadi topi. “Ini pakai lem Rajawali,” lanjutnya.



          Tak hanya topi dan songkok, tangan dingin Imam, sapaan akrab Imam Suhadi, mampu mengubah anyaman bambu menjadi berbagai kerajinan yang estetik. Mulai wadah minum, tempat nasi, tempat hantaran, tempat tisu. Bahkan, rantang susun yang biasanya terbuat dari plastik, juga bisa dibuat dari anyaman bambu.



          Berbagai jenis kerajinan untuk peralatan rumah tangga itu hanya dikerjakan bersama Endang Purwaningsih, sang istri. “Hanya berdua saja. Alhamdulillah bisa memenuhi pesanan yang masuk,” tutur Imam tentang usaha yang dirintis sejak 2007 lalu itu.



          Imam mencontohkan, beberapa minggu lalu dia mendapat pesanan tempat hantaran sebanyak 20 unit. Jika pemesan memberi deadline selama seminggu, dia bisa menyelesaikannya dalam waktu lima hari saja.



          Meski sudah memulai usaha sejak 15 tahun lalu, Imam memang baru bisa fokus sejak 2019 lalu. Tepatnya, setelah dia pensiun dari profesinya sebagai guru.



          Sebelum pensiun, Imam sempat menularkan keahliannya itu ke SMP Terbuka miliknya di Desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Probolinggo. Anak-anak yang sekolah gratis di sana pun dilatih untuk membuat berbagai kerajinan tangan berbahan bambu. “Setelah saya pensiun dari SD setempat, SMP Terbuka itu juga bubar karena saya pulang ke Kediri,” kenangnya.



          Setelah tak lagi menjadi pendidik, bapak tiga anak itu memutuskan fokus membuat kerajinan dari anyaman bambu. Untuk mencari bahan baku, dia memilih membeli bambu sisa pembuatan kandang ayam. Kebetulan, di Desa Kanigoro juga ada perajin pembuat kandang ayam. Bambu sisa material pembuatan kandang itulah yang oleh Imam disulap menjadi berbagai jenis kerajinan.



          Potongan-potongan bambu yang biasanya tidak dimanfaatkan itu diubahnya menjadi kerajinan yang nilai jualnya tinggi. “Awalnya hanya membuat songkok. Ternyata untuk pasar Kediri kebanyakan suka perabotan,” tuturnya.



          Imam pun menyesuaikan dengan permintaan. Pria kelahiran 1959 silam itu membuat tempat hantaran, tempat kue, kotak tisu, dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya. Tidak hanya estetik, kerajinan berbahan bambu ini juga terkesan mewah dan eksklusif. Karenanya, banyak warga yang berminat memesan.



          Jika awalnya Imam hanya membuat songkok, belakangan dia terinspirasi membuat topi dari bambu. Idenya muncul begitu pria yang bekerja sebagai guru sejak 1982 silam itu kepanasan ketika bersepeda.  “Topi kalau dari kain kan saat dipakai basah kena keringan. Kalau dari bambu ini tidak basah,” urainya.



          Belakangan, tidak hanya Imam saja yang menggemari topi bambu ini. Songkok dan topi buatannya banyak dipesan oleh konsumen. Terutama dari luar pulau Jawa.



          Sayang, selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), dia terpaksa menghentikan pengiriman barang ke luar kota. Sekarang dia memilih fokus melayani pesanan kerajinan untuk acara pernikahan dan lebaran.



          Belasan tahun menggeluti kerajinan berbahan bambu, Imam berharap inovasinya ini tidak hanya jadi miliknya bersama sang istri. Melainkan bisa dicontoh oleh generasi muda di daerahnya dan di Kediri. “Bahannya sederhana tetapi nilai jualnya tinggi,” tandasnya. (ut)


Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #kediri #info kediri #info terkini #kediri lagi #inspiratif #berita kediri #kreatif #seniman kediri