Dulu, ketua RT ini bekerja di pabrik penggilingan batu. Ketika menguasai seni ukir berbahan ‘gabus’dia memilih keluar. Penyebabnya, harga satu karya ukirnya setara dengan sebulan gaji sebagai buruh!
“Saya sudah lebih dari 30 tahun menggeluti seni ukir styrofoam,” ucap laki-laki yang sibuk menggores-nggores lembaran berwarna putih bersih. Di tangan kanannya terpegang pisau ukir yang ujungnya sedikit dibengkokkan. Pisau itu menari-nari membentuk motif ukir di lembar styrofoam tebal itu.
Pria itu adalah Basuki. Seorang ketua rukun tetangga di Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota. Tepatnya di RT 04 RW 02.
Selain sibuk mengurus warga, Pak RT yang rambutnya mulai memutih ini adalah seorang perajin ukir. Bahannya bukan dari kayu, melainkan Styrofoam. Hasil ukirnya itu digunakan oleh pemesan untuk berbagai kebutuhan. Mulai dekorasi pernikahan hingga ornamen di gapura pintu masuk.
Soal pesanan, jangan ditanya. Order lulusan sekolah teknik mesin atau STM-sekarang istilahnya menjadi SMK-ini tak pernah sepi. Pemesannya tak hanya orang Kediri saja tapi juga dari luar kota.
Siang kemarin misalnya, tangan lincah Basuki menyelesaikan ukiran berbentuk bunga anggrek. Sebelumnya dia lebih dulu menggambar motif di permukaan styrofoam. Kemudian pisau ukir yang bengkok ujungnya itu mulai meliuk-liuk mengikuti garis yang telah digambar di lembaran setebal 10 sentimeter.
Banyaknya orderan yang didapat sang ketua RT tersebut menjadi berkah bagi warga di lingkungannya. Agar mempercepat selesainya pemesanan, Basuki pun kerap mengajak warga membantu.
“Tergantung garapannya. Jika banyak dan rumit orangnya akan ditambah. Semua warga saya di sini,” terangnya. Apa yang dilakukan Basuki ini menjadi salah satu cara dia bisa membuka lapangan pekerjaan.
Soal pemasaran, Basuki mengaku tak pernah kesulitan. Dia bahkan tidak memasang identitas bila dia seorang perajin ukir styrofoam. Tak ada plang ataupun papan nama. Sebab, pria yang saat ditemui berbaju kerah dengan garis biru-hitam ini tidak pernah memasarkan sendiri karya-karyanya. Dia hanya melayani pesanan yang datang saja.
Selama ini karyanya sudah diketahui oleh para konsumennya. Karena rata-rata merasa puas, akhirnya buatan Basuki jadi rujukan bagi yang ingin pesan ukiran Styrofoam. Workshop-nya juga kerap dijadikan tempat berkumpul para pelaku dekorasi pengantin. Dari situlah dia tahu seperti apa kebutuhan konsumen. Termasuk setiap perubahan yang terjadi sesuai dengan tren yang berkembang. Basuki selalu mengikuti tren dan perubahan selera konsumen. Satu hal yang dia bisa hadapi karena bekal puluhan tahun menggeluti seni ukir styrofoam.
Basuki pun juga bersiap terjadinya perubahan selera. Termasuk berjaga-jaga bila seni ukir Styrofoam mengalami surut. Kini, dia mulai menggeluti seni lain. Membuat taman sekaligus reliefnya hingga mengukir berbahan gypsum. Dia juga memanfaatkan limbah kayu.
Tidak semua hasil karyanya dinilai dengan uang. “Beberapa karya untuk Kelurahan Ngronggo dibuat untuk mencari kepuasan seni. Misalnya gapura masjid dan taman kelurahan,” ungkapnya.
Kini, ia mulai tertantang mengukir bata ringan. Salah satu yang dia buat saat ini adalah gunungan untuk Kelurahan Kemasan yang jadi ikon kampung pecut. Salah satu yang membedakan seni ukir berbahan bata ringan dan styrofoam adalah harus menyesuaikan medianya.
Menjadi lelaki multi talen, Basuki tetap sederhana. Di tengah pandemi seperti ini, job-nya terus mengalir. Meski bukan dari mereka yang sedang merayakan pernikahan, produksi lain seperti ukiran bata ringan menjadi tren baru di usahanya.
Berkat hasil karyanya itu, pihak Keluraha Ngronggo sempat ingin mencanang RT-nya menjadi kampung styrofoam. Bukan tanpa alasan, keuletan Basuki terjun ke seni ukir styrofoam itu mampu menciptakan peluang kerja baru bagi warga. Kelurahan menganggap, Basuki bisa memberi efek positif bagi warga. (fud)
Editor : adi nugroho