Ada banyak dewa yang disembah di Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro. Dari dewa-dewa tersebut ternyata ada dewa lokal. Yaitu Raja Semut atau Hia Ong. Sang Raja Semut dianggap tuan tanah di Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro.
KAREN WIBI. SUKOMORO, JP Radar Nganjuk.
Di ruang belakang Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro ada lima altar. Yaitu, altar Dewi Kwan Im, altar Konghucu, altar Budha, altar Taoisme dan altar Hia Ong atau Raja Semut. Di altar Raja Semut ini ada rumah semut dari tanah berukuran raksasa. Tingginya sekitar dua meter dengan diameter 80 cm. “Setiap tahun terus membesar rumah Raja Semut ini,” ujar Sebastian Wuisan, seksi kerohanian Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro.
Saat awal ditemukan pada tahun 1958, rumah Raja Semut hanya memiliki tinggi kurang dari satu meter. Setelah bertahun-tahun, tinggi dan ukuran rumah raja semut ini terus bertambah. Hingga sekarang, mencapai dua meter.
Bagi umat di Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro, Raja Semut ini dianggap sebagai dewa lokal. Dewa ini dianggap memberi berkah di bidang kesehatan dan perekonomian. Karena itu, tak jarang umat yang mengalami sakit atau bangkrut berdoa di depan altar Raja Semut untuk memohon kesembuhan atau kebangkitan perekonomian. “Setelah doanya terkabul, umat memberikan seserahan di sekitar altar Raja Semut,” ujarnya.
Untuk seserahan yang diberikan ini berupa gula pasir dan kue manis. Ini karena Raja Semut suka dengan gula dan manis. “Sukarela untuk seserahan ini,” ujar bapak tiga anak ini.
Yang menarik, untuk umat yang berdoa atau memohon di altar Raja Semut tidak hanya didominasi oleh Konghucu. Namun, umat yang menganut agama lain juga melakukannya.
Keberadaan Raja Semut di Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro ini juga sudah dikenal oleh umat dari luar kota dan pulau. Karena itu, meski sebagai dewa lokal tetapi umat dari luar daerah dan pulau juga banyak yang berdoa di altar Raja Semut. Mereka mengaku setelah berdoa, apa yang diinginkan sering terkabul. Sehingga, altar Raja Semut menjadi salah satu jujugan selain dewa utama Kongco Kong Tik Tjoen Ong.
Agar rumah Raja Semut tidak rusak, umat dilarang menyentuhnya. Kemudian, seserahan tidak boleh diletakkan sembarangan. Harus ditaruh di tempat yang telah disediakan. “Kami sebagai pengurus kelenteng terus merawat dan menjaga agar rumah Raja Semut tetap aman,” pungkas Sebastian.
Editor : adi nugroho