Tak pernah terbersit angan-angan untuk menjadi atlet wushu seperti sekarang. Sebab, seorang Citra kecil justru bermimpi menjadi seorang penari. Impian yang tetap dia kejar meski medali wushu banyak mengalung di lehernya.
Aula di bagian belakang SMA Taruna Brawijaya riuh rendah oleh suara-suara teriakan. Disertai oleh hentakan kaki yang menyentuh matras. Puluhan orang terlihat beraktivitas di aula bercat hijau tentara yang berada di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto itu.
Puluhan orang itu adalah para atlet beladiri wushu. Yang tengah serius berlatih mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan provinsi (kerjurprov).
Di antara para atlet itu, ada satu cewek yang berada di tengah-tengah anak-anak kecil berseragam wushu. Gadis tersebut serius mengajari para bocah. Memberi instruksi-instruksi gerakan. Beberapa kali dia membenarkan gerakan yang dilakukan beberapa bocah.
"Sebenarnya saya di sini juga, hitungannya, masih atlet. Belum sebagai pelatih," aku gadis 21 tahun bernama Citra Purnamasari ini.
Perempuan berambut sebahu itu adalah anggota tim wushu Kota Kediri. Dia tengah mempersiapkan para atlet mengikuti kejuaraan yang rencananya berlangsung akhir Februari nanti. Karena waktunya sudah dekat, latihan semakin ditingkatkan intensitasnya. Itulah mengapa dia juga didapuk agar membantu pelatih mengajari atlet yang masih usia dini.
Meskipun membantu melatih, peraih medali emas Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2019 dan Kejurprov 2020 ini tak lalu mengurangi jatah berlatihnya sendiri. Sebaliknya, dia harus bisa menyesuaikan jadwal melatih dan berlatih dengan baik.
Uniknya, ‘gangguan’ yang harus dia hadapi tak hanya melatih atlet wushu. Gadis ini ternyata juga disibukkan melatih bocah-bocah lagi. Tapi, bukan dalam beladiri asal Tiongkok ini. “Saya juga harus melatih tari anak-anak SD,” akunya.
Sehari-hari, Citra adalah guru di SD Negeri Bangsal, Kecamatan Pesantren. Statusnya memang masih honorer. Namun, dia menjadi guru mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan (penjaskes). Tapi, dia juga menjadi pembina ekstra-kurikuler seni tari.
Lho, bagaimana seorang atlet wushu bisa sekaligus seorang penari? Ternyata, menurut Citra, sejak kecil dia lebih dekat dengan aktivitas menari. Sudah banyak lomba yang dia ikuti. Bahkan, impiannya sejak kecil adalah bisa melatih tari anak-anak di sanggar.
"Dulu kalau diingat-ingat, saya termasuk anak yang kecilnya polah (banyak gerak, Red). Lalu orang tua saya akhirnya mengikutkan ke ekskul tari di sekolah. Mungkin untuk mengasah bakat polah saya," kenangnya sembari tertawa renyah.
Akhirnya, dia pun jatuh cinta dengan dunia tari. Mengalahkan kecintaannya pada olahraga yang juga dia gemari. Sudah banyak cabang olahraga yang coba dia geluti. Mulai tenis, basket, ataupun voli. Namun, apapun pilihan olahraganya itu, yang menjadi tempatnya ‘kembali’ adalah menari.
Sampai akhirnya dia mengenal wushu. Tepatnya ketika dia duduk di kelas 12 SMA. Di cabang olahraga bela diri ini, gadis asal Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem ini menjadi sangat asyik. Berderet prestasi dia raih.
“Awalnya ditawari teman. Akhirnya coba ikut latihan basic selama dua minggu. Kemudian dilanjutkan dengan latihan fisik," kata anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Seiring berjalannya waktu, pelatih menilai dirinya bagus. Mempunyai potensi berprestasi di olahraga ini. Akhirnya disuruh rajin mengikuti latihan.
Citra mengatakan, sebenarnya orang tuanya takut dengan olahraga pilihannya ini. Karena ada kontak fisik langsung. Namun dia menangkan hati orang tuanya. Dan meminta untuk memberi dukungan terlebih dulu. Sambil melihat perkembangan seiring perjalanan waktu.
Semenjak terjun di wushu, dia telah mengikuti beberapa kejuaraan di tingkat provinsi. Medali perunggu, perak, hingga emas sudah ia koleksi. Dan itu dia lalui tidak dengan mudah. Cedera hingga rasa pahit karena sakit menjadi hal yang biasa.
“Dulu sempat down karena saya mikir cedera ini bisa sembuh atau tidak. Soalnya lama, ada sekitar tiga bulan. Sempat tidak bisa tidur beberapa hari. Tapi saya ingat pesan dari pelatih bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil,” ujar Citra.
Meskipun ‘babak belur’ namun ia bersyukur hingga menjadi seperti sekarang. Meskipun demikian, mimpinya untuk melatih tari tetap tidak ia kubur. Baginya menari dan wushu hampir memiliki kesamaan. Yaitu bergerak aktif. "Seluruh olahraga niatnya kan sama, melatih diri agar lebih sehat," ujarnya memungkasi percakapan.
Citra kemudian memasang glove dan pelindung badan. Balik badan menuju rekan-rekan atletnya berbaris rapi. Kembali berkutat dalam latihan. Mempersiapkan diri agar Kota Kediri agar berjaya di Porprov 2022. Targetnya sama dengan tahun sebelumnya. Wushu Kota Kediri menjadi juara umum.(fud)
Editor : adi nugroho