Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Masripah, Pedagang Pasar Kertosono yang Rugi Ratusan Juta Rupiah

adi nugroho • Rabu, 5 Januari 2022 | 18:01 WIB
masripah-pedagang-pasar-kertosono-yang-rugi-ratusan-juta-rupiah
masripah-pedagang-pasar-kertosono-yang-rugi-ratusan-juta-rupiah


Masripah merupakan salah satu pedagang di Pasar Kertosono yang mengalami kerugian ratusan juta rupiah karena pasar terbakar pada 2017. Tanpa kios dan modal yang pas-pasan, Masripah berusaha bangkit. Dia berjualan di pasar darurat agar dapurnya tetap ngebul.


ANDHIKA ATTAR. KERTOSONO, JP Radar Nganjuk.


“Monggo, sepatu dan sandalnya. Monggo ditingali rumiyen,” ujar Masripah, salah satu pedagang Pasar Kertosono yang menempati pasar darurat di Kelurahan Banaran, Kecamatan Kertosono kemarin. Perempuan berkerudung tersebut tetap semangat menawarkan dagangannya. Meski pengunjung pasar bisa dihitung dengan jari dan tidak ada yang melihat dagangannya.


Sesekali, Masripah pindah ke bagian depan kiosnya. Duduk di sebuah kursi kayu. Sembari menata dagangannya agar terlihat lebih rapi. Aktivitas tersebut dilakukannya setiap hari. Tanpa mengenal hari libur, Masripah terus menjajakan dagangannya. “Sepi,” ujar ibu empat anak tersebut.


Sebelum Pasar Kertosono terbakar pada 2017 silam, dalam sehari dia bisa mengantongi omzet paling sedikit Rp 1 juta. Namun, kini untuk mendapatkan omzet Rp 200 ribu sehari saja sudah susah. “Libur Natal dan tahun baru juga tidak ngefek,” keluhnya. .


Namun, semangatnya untuk terus berdagang tidak luntur. Ia seakan tidak kenal kata menyerah. Padahal, kerugian yang dialami saat Pasar Kertosono terbakar mencapai lebih dari Rp 300 juta. Total, dagangan pada empat kiosnya ludes dilalap si jago merah.


Sama sekali tak bersisa. Tidak ada yang dapat diselamatkan. Dunia seakan berhenti kala itu. Hanya kunci keempat kiosnya saja yang masih utuh. Sekarang, kunci tersebut disimpannya baik-baik di rumah. Diberi pigura. Sebagai kenang-kenangan. “Biar ada ceritanya. Saya simpan itu kuncinya,” sambung nenek lima cucu tersebut.


Tiga bulan lamanya, dia sempat tidak berjualan. Antara trauma dan kehabisan modal jadi penyebabnya. Anak-anak Masripah sejatinya sudah melarang untuk kembali berjualan. Namun, dia sadar bahwa berdagang sudah menjadi kesehariannya selama puluhan tahun. Tidak bisa ditinggalkan begitu saja.


Dengan modal Rp 4 juta, Masripah mencoba kembali berjuang. Tanpa kios, dia memanfaatkan gerobak dorong saja. Beruntung, namanya sudah banyak dikenal orang. Pelanggannya pun tergolong setia. Meski hanya berjualan di pinggir jalan, masih banyak orang yang beli di tempatnya.


Sedikit demi sedikit mengumpulkan modal tambahan untuk kembali berjualan. Hingga akhirnya kini ia menempati salah satu kios di pasar darurat tersebut. “Hiburan saya ya jualan ini. Kalau di rumah saja justru tidak betah,” ujar pedagang asli Kertosono ini.


Saat ini, harapan Masripah dan pedagang lain hanya satu. Pembangunan Pasar Kertosono segera selesai. Sehingga, pedagang bisa kembali berjualan di lokasi yang layak. “Semoga tahun ini bisa jualan di Pasar Kertosono lagi,” harapnya.

Editor : adi nugroho
#kabar nganjuk #pasar #radar nganjuk #pasar kertosono